Menurut Hugua, geliat UMKM akan berdampak langsung pada seluruh lapisan masyarakat, mulai dari kalangan menengah ke bawah hingga kelompok ekonomi atas.

Di tengah tantangan ekonomi global yang penuh ketidakpastian, pertumbuhan sektor UMKM dinilai menjadi bantalan ekonomi yang paling nyata bagi masyarakat.

“Kalau ini berkembang dengan baik, pasti kelas menengah ke bawah yang menikmatinya, termasuk kelas atas juga.

Sehingga dinamika ekonomi masyarakat berkembang, pertumbuhan ekonomi daerah berkembang, PAD daerah naik, dan pembangunan bisa kita biayai dengan maksimal,” ujarnya.

Hugua menyebut kontribusi UMKM terhadap ekonomi Sultra sangat besar. Bahkan, sekitar 70 persen masyarakat Sultra masih menggantungkan hidup pada sektor tersebut, terutama UMKM yang bergerak di bidang pangan, industri kecil, dan ekonomi kreatif.

Ia menilai, bila sektor-sektor tersebut tumbuh secara berkelanjutan, dampaknya bukan hanya pada penguatan ekonomi lokal, tetapi juga terhadap ketahanan pangan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Hampir 70 persen penduduk kita tergantung di sektor UMKM. Kalau sektor pangan berkembang, industri kecil berkembang, ekonomi kreatif tumbuh, maka masyarakat kita pelan-pelan tapi pasti akan sejahtera,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Hugua juga mengapresiasi langkah Bank Indonesia yang terus mendorong digitalisasi ekonomi lewat sistem pembayaran QRIS.

Ia bahkan mengaku menjadi salah satu pengguna aktif layanan transaksi digital tersebut.

“Saya salah seorang pengguna aktif QRIS. Mudah-mudahan kita semua aktif menggunakan QRIS, karena ini milik kita bersama, karya bangsa sendiri, dan menjadi instrumen penting mendukung UMKM naik kelas,” pungkasnya. (red)

9 / 100 Skor SEO