Oleh: Dr. H. Sofyan, S.E., M.M.
Ketika seorang petani melangkahkan kaki pulang dari ladang saat matahari mulai tenggelam, yang ia bawa di dalam benaknya bukan sekadar keletihan. Ada senyum kecil dan harapan sederhana, semoga hasil panen hari ini cukup untuk membeli beras, minyak, dan menyisihkan sedikit uang jajan bagi anak-anak di rumah.
Begitu pula ketika seorang ibu dengan lembut membenahi seragam sekolah anaknya di pagi fajar. Di dalam hatinya yang paling dalam, tertanam doa yang amat tulus: “Biar bapak dan ibu yang susah, nak. Kamu harus sekolah yang tinggi dan punya hidup yang lebih baik.”
Dari sudut-sudut rumah yang penuh kesederhanaan itulah, dari keringat dan doa warga di desa-desa, pembangunan sejatinya harus bermula.
Bagi saya, tanah Muna bukan sekadar nama di atas kertas atau peta wilayah. Muna adalah bagian dari jiwa dan perjalanan hidup saya. Dari setiap langkah kaki yang menyusuri lorong-lorong desa, dari tiap sapaan dan pelukan hangat warga, saya makin paham satu hal: membicarakan masa depan Muna tak bisa hanya dari balik meja yang ber-AC.



Tinggalkan Balasan