Kita harus mau turun, duduk bersimpuh, dan mendengarkan langsung apa yang membuat warga kita risau dan apa yang membuat mereka tersenyum.

Coba sejenak kita bertanya pada diri sendiri: Apakah air bersih sudah mengalir lancar di dapur rumah warga, tanpa harus membuat para ibu bersusah payah menimba jauh? Apakah jalan-jalan desa sudah cukup mulus agar hasil bumi petani tak rusak di jalan? Apakah keluarga kita bisa tidur nyenyak tanpa cemas memikirkan biaya berobat saat ada anak atau orang tua yang mendadak sakit?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itulah yang menjadi ukuran sejati: apakah pembangunan sudah benar-benar menyentuh kehidupan kita, atau baru sebatas kata-kata?

Semua persoalan ini sejatinya saling mengikat. Jalan desa yang rusak dan berlubang bikin ongkos angkut mahal, kasihan petani kita uangnya habis di jalan. Ketersediaan air yang sulit menyita waktu dan tenaga yang mestinya bisa dipakai untuk mengurus keluarga.

Belum lagi urusan sekolah anak dan tempat berobat yang kalau sulit, bisa memadamkan mimpi-mimpi keluarga kecil kita. Sebab itu, Muna butuh perhatian yang sungguh-sungguh, butuh penanganan yang konsisten, dan bukan sekadar janji saat ada keperluan.

Kini, ada kesempatan besar di depan mata kita. Arah pembangunan Muna bisa kita sambungkan langsung dengan niat baik Presiden Bapak Prabowo Subianto yang fokus memberi makan bergizi untuk anak-anak, memperbaiki sekolah, menjamin kesehatan, dan menghidupkan ekonomi desa.

Langkah ini makin kuat karena sejalan dengan komitmen Gubernur Sulawesi Tenggara, Bapak Mayjen TNI (Purn.) H. Andi Sumangerukka, yang terus memperjuangkan sekolah gratis, berobat mudah, jalan mulus, serta perhatian pada petani dan nelayan.

Tugas kita di Muna adalah memastikan semua niat baik dari Pusat dan Provinsi itu betul-betul sampai ke depan pintu rumah warga.

Kota Muna harus kita benahi agar makin maju dan membanggakan. Kawasan kota disepakati untuk diperluas, jalan lingkar (ring road) dibangun supaya jalanan tidak macet dan usaha-usaha baru warga bisa tumbuh di pinggiran kota.

Garis pantai yang indah ditata rapi agar jadi tempat rekreasi keluarga yang nyaman. Lahan-lahan kosong yang selama ini terlantar kita ubah jadi taman kota dan ruang terbuka yang hijau, tempat anak-anak kita bisa bermain dengan ceria dan aman.

Sedangkan untuk saudara-saudara kita yang tinggal di luar kota, tiap-tiap kecamatan harus kita perhatikan potensi khasnya. Jangan disamaratakan.

Mana kecamatan yang kuat di bidang pertanian, mana yang kaya hasil laut, dan desa-desa yang punya pemandangan indah kita dorong jadi desa wisata. Kalau desa-desa kita hidup, anak-anak muda tak perlu bingung mencari rezeki di kota orang.

Jalan ke sekolah, jalan ke puskesmas, ke pasar, hingga ke kebun-kebun warga harus diperbaiki dengan kualitas yang baik.

Soal air bersih pun begitu seperti yang diperjuangkan di Kabawo jangan cuma asal bangun sumur bor lalu ditinggal. Harus dipastikan airnya terus mengalir, ada pengelolanya, dan terawat dengan baik. Sebab bagi seorang ibu rumah tangga, kalau air bersih sudah mengalir di dapur, separuh beban hidupnya serasa terangkat.

Di sektor pertanian dan perikanan, ukuran keberhasilannya sederhana saja: berapa banyak uang bersih yang bisa dibawa pulang petani dan nelayan kita ke rumah. Bantuan bibit dan pupuk harus tepat waktu, harga jual hasil panen harus dijaga agar tidak dimainkan para tengkulak, dan pasarnya harus dipastikan ada.

Adanya Program Makan Bergizi Gratis dari Presiden Prabowo adalah peluang emas bagi warga Muna. Berasnya harus beli dari petani Muna, ikannya dari nelayan Muna, telur dan sayurnya dari peternak serta pekebun lokal kita. Koperasi desa harus bergerak aktif. Hasil keringat warga Muna harus jadi penopang gizi anak-anak Muna sendiri.

Urusan sekolah anak, tak boleh ada lagi cerita anak Muna putus sekolah hanya karena tidak punya biaya seragam atau buku. Anak-anak muda kita harus dibekali keterampilan kerja dan dibantu modal kalau mau membuka usaha sendiri.

Sementara di rumah sakit dan puskesmas, alur berobat jangan dibuat berbelit-belit. Orang sakit itu butuh pertolongan cepat dan senyuman ramah dari petugas, bukan dipusingkan oleh berkas-berkas administrasi.

Semua ikhtiar ini tentu butuh kejujuran dan keterbukaan. Pemerintah daerah harus bijak mengelola anggaran dan rajin menjemput bantuan dari provinsi maupun pusat dengan data yang jelas.

Masyarakat Muna juga harus diberi tahu secara jujur: program apa yang sedang dikerjakan, berapa anggarannya, dan kapan bisa dirasakan manfaatnya. Pintu pengaduan harus dibuka lebar-lebar. Kalau ada jalan yang rusak atau air yang mati, warga harus mudah mengadu dan langsung direspons dengan cepat.

Saya sangat percaya, kemajuan tanah Muna tidak bisa dikerjakan sendirian. Ini adalah kerja gotong royong, kerja bersama yang dilandasi rasa sayang pada daerah dan kepedulian pada sesama.

Pada akhirnya, keberhasilan sebuah pembangunan tak diukur dari megahnya bangunan beton atau ramainya baliho di jalan. Pembangunan yang berhasil adalah ketika kehidupan warga terasa lebih ringan dan membahagiakan, air bersih mengalir di rumah, jalanan lancar dan aman, usaha keluarga berkembang, anak-anak tenang bersekolah, dan saat ada anggota keluarga yang sakit, bantuan datang dengan cepat dan hangat.

Ketika rasa tenang dan manfaat itu betul-betul sampai di dalam rumah-rumah kita, di situlah warga Muna punya alasan kuat untuk tersenyum dan merawat harapan masa depan yang lebih cerah.

Terima Kasih..

16 / 100 Skor SEO