Tidak hanya itu, mereka yang punya “hobi” menghujat, menindas, atau melecehkan lewat media sosial mungkin juga memiliki trauma tersendiri. Pelaku mungkin pernah menjadi korban penindasan sebelumnya dan selama ini memendam amarah. Jadi, mereka melakukan cyber bullying sebagai bentuk pelampiasan. Kemungkinan penyebab lain adalah pelaku pernah mendapatkan manfaat dari tindakan bullying yang mereka lakukan, sehingga mereka terdorong untuk mengulang kembali perilaku tersebut untuk mendapatkan manfaat yang sama.

Selain itu, kesukaan menyebar kebencian di media sosial justru bisa menunjukkan kelemahan orang tersebut, yaitu tanda bahwa dirinya kurang mendapatkan kasih sayang, baik dari keluarga maupun orang lain. Orang yang kurang kasih sayang akan cenderung lebih mudah mengeluarkan kata-kata kasar yang penuh dengan kebencian. Saat berinteraksi secara langsung pun, ia akan cenderung bersikap intimidatif pada orang lain. Secara psikologis, hal ini terjadi karena di dalam pikirannya sudah tertanam pola pikir bahwa ia sulit menjalin hubungan dengan orang lain, sehingga memilih untuk menjauh dari orang lain dengan cara menebar kebencian.

Itulah penjelasan gangguan mental yang mungkin dialami oleh haters atau penebar kebencian di media sosial. Bila kamu memiliki masalah dalam mengendalikan emosi, coba bicarakan saja dengan psikolog melalui aplikasi Halodoc. Kamu bisa menghubungi psikolog atau psikiater melalui Video/Voice Call dan Chat kapan dan di mana saja. Sampaikan keluh kesah dan dapatkan saran terbaik dari ahlinya. Download Halodoc sekarang di App Store dan Google Play!

Referensi:
Medscape. Diakses pada 2019. Cyberbullying Perpetrators and Victims at Risk for Physical and Psychiatric Problems.
28 / 100 Skor SEO