Jakarta – Linimasa media sosial beberapa minggu ini diramaikan dengan berita pencopotan anggota TNI. Penyebabnya? Ulah istri mereka yang menyebarkan kebencian melalui unggahan daring. Peristiwa ini kembali menjadi pengingat bagi masyarakat untuk lebih bijak dalam berselancar di dunia maya, terutama saat mengunggah status atau postingan.
Fenomena “haters” atau penyebar kebencian memang marak di media sosial. Namun, pernahkah Anda bertanya-tanya, mengapa ada individu yang begitu mudah melontarkan ujaran kebencian, menyerang pihak yang tidak disukai, bahkan hingga menindas dan melakukan cyberbullying secara parah? Ternyata, kegemaran menyebar kebencian di media sosial ini bisa menjadi indikasi adanya gangguan mental, lho.
Awalnya, kehadiran berbagai platform media sosial seperti Facebook, Twitter, dan Instagram diharapkan menjadi wadah positif untuk menjalin koneksi dan menyampaikan aspirasi. Namun, seiring waktu, dampak negatif media sosial semakin terasa dengan menjamurnya para haters. Mereka dengan mudahnya menyiarkan pikiran yang bersifat amarah dan kebencian secara instan, yang ironisnya dapat dilihat oleh khalayak luas.
Agresi di Dunia Maya: Dari Pelampiasan hingga Kurang Kasih Sayang
Mencibir, melecehkan, menghujat, dan bertindak agresif di dunia maya seolah memberikan kepuasan tersendiri bagi para haters, terutama bila pihak yang diserang sampai merasa menderita. Perilaku agresi di media sosial ini dikenal juga sebagai cyberbullying.
Berita Terkait



Tinggalkan Balasan