MIMBAR | Media Inspirasi, Motivasi, Bimbingan, Akhlak dan Religi
Oleh: dr. H. Sukirman, MARS, M.Kes., Sp.PA. – Ketua IKADI Wilayah Sulawesi Tenggara
Setiap hari kita menjalani kehidupan dengan berbagai kesibukan.
Bekerja, mencari rezeki, mengurus keluarga, mengejar cita-cita, membangun karier, dan menjalankan berbagai aktivitas duniawi.
Hari berganti hari.
Bulan berganti bulan.
Tahun berganti tahun.
Usia pun terus bertambah.
Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri:
Ke mana perginya waktu yang telah kita habiskan?
Apa yang telah kita lakukan dengan umur yang Allah titipkan?
Dan, jika suatu hari seluruh catatan kehidupan kita diperlihatkan, apakah kita akan tersenyum atau justru berharap dapat kembali ke dunia untuk memperbaiki semuanya?
Allah SWT telah mengingatkan kita dalam QS. Ali ‘Imran ayat 30:
“Pada hari ketika setiap jiwa mendapati segala kebajikan yang telah dikerjakannya dihadapkan (kepadanya), begitu pula kejahatan yang telah dikerjakannya. Ia ingin sekiranya ada jarak yang jauh antara ia dan hari itu. Dan Allah memperingatkan kamu akan (siksa)-Nya. Dan Allah Maha Penyayang terhadap hamba-hamba-Nya.”
Ayat ini menggambarkan dahsyatnya Yaumul Hisab, hari ketika seluruh amal manusia diperlihatkan.
Tidak ada yang tersembunyi.
Tidak ada yang terlewat.
Tidak ada yang dapat kita hapus dari catatan kehidupan kita sendiri.
Semua Amal Akan Dihadapkan
Kebaikan sekecil apa pun tidak akan sia-sia.
Senyuman kepada orang lain.
Sedekah yang tidak diketahui manusia.
Membantu orang yang sedang kesulitan.
Berbakti kepada orang tua.
Menafkahi keluarga dengan rezeki yang halal.
Menahan amarah.
Menjaga lisan.
Bahkan lelah yang kita rasakan dalam menjalankan kebaikan, semuanya berada dalam pengetahuan Allah SWT.
Sebaliknya, keburukan yang pernah dilakukan juga tidak akan hilang begitu saja.
Kata-kata yang menyakiti.
Fitnah yang disebarkan.
Hak orang lain yang diambil.
Kezaliman yang disembunyikan.
Pengkhianatan terhadap amanah.
Harta yang diperoleh dengan cara yang tidak halal.
Semuanya akan dipertanggungjawabkan.
Pada hari itu, manusia tidak lagi dapat bersembunyi di balik pencitraan.
Jabatan tidak akan menjadi pelindung. Gelar tidak akan menjadi pembela. Harta tidak akan mampu membeli keselamatan.
Yang akan berbicara adalah amal.
Ketika Penyesalan Sudah Tidak Berguna
Allah menggambarkan penyesalan manusia pada hari itu.
Ia berharap ada jarak yang sangat jauh antara dirinya dengan keburukan yang pernah dilakukan.
Bayangkan jika seseorang melihat sendiri seluruh kesalahan yang pernah ia lakukan.
Kesombongan yang dulu dianggap biasa.
Harta yang diperoleh dengan cara yang salah.
Amanah yang pernah dikhianati.
Lisan yang pernah melukai orang lain.
Dosa yang dahulu dilakukan secara sembunyi-sembunyi.
Pada hari itu semuanya menjadi nyata.
Yang lebih berat adalah ketika manusia menyadari bahwa kesempatan untuk memperbaikinya telah berakhir.
Karena itu, jangan menunggu hari pertanggungjawaban untuk mulai berubah.
Berubah saat ini.
Bertaubat saat ini.
Meminta maaf saat ini.
Mengembalikan hak orang lain saat ini.
Memperbaiki ibadah saat ini.
Sebab kita masih diberikan sesuatu yang sangat berharga:
kesempatan.
Peringatan Allah Adalah Bentuk Rahmat
Menariknya, Allah menutup ayat tersebut dengan peringatan sekaligus penegasan bahwa Dia Maha Penyayang terhadap hamba-hamba-Nya.
Ini menunjukkan bahwa peringatan tentang akhirat bukan semata-mata untuk menakut-nakuti manusia.
Justru sebaliknya.
Allah sedang memberikan kesempatan kepada kita untuk sadar sebelum terlambat.
Kita masih bernapas.
Masih bisa bersujud.
Masih bisa berdoa.
Masih bisa meminta ampun.
Masih bisa memperbaiki hubungan dengan orang lain.
Masih bisa mengembalikan hak yang pernah kita ambil.
Selama nyawa belum sampai di tenggorokan, pintu taubat masih menjadi harapan bagi seorang hamba.
Maka jangan sia-siakan kesempatan tersebut.
Apa yang Sedang Kita Persiapkan?
Kita sering sibuk mempersiapkan masa depan dunia.
Menabung untuk hari tua.
Membangun rumah.
Mempersiapkan pendidikan anak.
Merencanakan karier.
Menyiapkan berbagai kebutuhan keluarga.
Semua itu penting.
Namun ada satu masa depan yang sering terlupakan: akhirat.
Padahal, itulah masa depan yang pasti.
Tidak seorang pun tahu kapan waktunya dipanggil Allah.
Karena itu, setiap hari seharusnya menjadi kesempatan untuk menambah bekal.
Perbanyak amal kebaikan.
Jaga lisan.
Jangan mengambil hak orang lain.
Jaga amanah.
Perbaiki hubungan dengan keluarga dan sesama.
Perbanyak istighfar.
Dan jangan pernah merasa terlalu terlambat untuk kembali kepada Allah.
Jangan Tunggu Sampai Catatan Itu Ditutup
Saudaraku yang dirahmati Allah,
Hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan hanya mengejar dunia.
Hari ini kita masih memiliki waktu.
Besok belum tentu.
Hari ini kita masih bisa meminta maaf.
Besok belum tentu.
Hari ini kita masih bisa bersedekah.
Besok belum tentu.
Hari ini kita masih bisa bersujud.
Besok belum tentu kita masih diberi kesempatan.
Maka mari kita renungkan setiap langkah yang kita ambil.
Karena setiap hari sesungguhnya kita sedang menulis sebuah catatan.
Dan suatu hari nanti, catatan itu akan dikembalikan kepada kita.
Apa yang kita tanam hari ini, itulah yang akan kita hadapi kelak.
Semoga ketika catatan amal kita dihadapkan kepada kita nanti, kita termasuk orang-orang yang tersenyum karena menemukan lebih banyak kebaikan daripada penyesalan.
Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita, menerima amal kebaikan kita, memperbaiki akhir kehidupan kita, dan memasukkan kita ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang mendapatkan rahmat dan rida-Nya.
Jangan tunggu hari pertanggungjawaban untuk menyesal.
Gunakan hari ini untuk memperbaiki catatan amal.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Wabillahi taufiq wal hidayah.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.



Tinggalkan Balasan