Oleh: dr. H. Sukirman, MARS, M.Kes., Sp.PA.
Ketua IKADI Wilayah Sulawesi Tenggara
“Hidup ini hanya sekali, maka nikmatilah. Tapi jangan lupa, mati pun cuma sekali, maka bersiaplah.”
Kalimat ini sederhana, tetapi menyimpan pesan yang sangat dalam.
...
...
Kita sering sibuk menikmati kehidupan, tetapi lupa bahwa kehidupan dunia memiliki batas.
Kita mengejar pekerjaan, mengumpulkan harta, membangun rumah, membeli kendaraan, mengejar jabatan, menikmati perjalanan, berkumpul bersama keluarga, dan mengejar berbagai keinginan.
Semua itu tidak salah.
Islam tidak mengajarkan manusia untuk meninggalkan dunia.
Namun, jangan sampai kenikmatan dunia membuat kita lupa kepada kehidupan yang kekal.
Hidup Adalah Anugerah yang Harus Disyukuri
Setiap pagi ketika membuka mata, sesungguhnya kita menerima kesempatan baru dari Allah SWT.
Masih diberikan kesehatan.
Masih dapat berkumpul dengan keluarga.
Masih dapat bekerja.
Masih dapat menikmati makanan.
Masih dapat melihat matahari terbit.
Masih dapat bersujud dan berdoa.
Semua itu adalah nikmat.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Qasas ayat 77:
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari kenikmatan dunia…”
Ayat ini mengajarkan keseimbangan.
Kita boleh menikmati kehidupan dunia, tetapi jangan melupakan akhirat.
Nikmati rezeki, tetapi jangan lupa bersyukur.
Nikmati keluarga, tetapi jangan lupa mendidik mereka.
Nikmati harta, tetapi jangan lupa berbagi.
Nikmati kesehatan, tetapi gunakan untuk beribadah dan melakukan kebaikan.
Karena nikmat yang disyukuri akan menjadi berkah, sedangkan nikmat yang membuat kita lalai dapat menjadi ujian.
Jangan Sampai Dunia Menjadi Tujuan Akhir
Ada orang yang sepanjang hidupnya bekerja keras mencari uang.
Setelah mendapatkan uang, ia mengejar lebih banyak lagi.
Setelah memiliki rumah, ingin rumah yang lebih besar.
Setelah memiliki kendaraan, ingin kendaraan yang lebih mewah.
Setelah mendapatkan jabatan, ingin jabatan yang lebih tinggi.
Keinginan manusia memang tidak pernah selesai jika tidak dikendalikan.
Rasulullah SAW mengingatkan:
“Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan orang asing atau seorang musafir.”
(HR. Tirmidzi)
Seorang musafir tidak akan membangun seluruh hidupnya di tempat persinggahan.
Ia tahu bahwa perjalanan akan dilanjutkan.
Begitu pula kehidupan dunia.
Kita sedang berjalan menuju sebuah tempat yang pasti: kematian.
Maka bekerja keraslah, tetapi jangan lupa beribadah.
Carilah harta, tetapi pastikan halal.
Bangun karier, tetapi jangan korbankan iman.
Miliki jabatan, tetapi jangan kehilangan amanah.
Nikmati kehidupan, tetapi jangan kehilangan arah.
Mati Pun Sekali, Maka Bersiaplah
Kita sering mengatakan:
“Nanti saja.”
Nanti kalau sudah tua saya akan lebih rajin beribadah.
Nanti kalau sudah kaya saya akan banyak bersedekah.
Nanti kalau pekerjaan sudah selesai saya akan lebih dekat dengan Allah.
Padahal kita tidak pernah tahu apakah kata “nanti” masih menjadi milik kita.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Jumu’ah ayat 8:
“Katakanlah: Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu…”
Kematian tidak menunggu seseorang menjadi tua.
Tidak menunggu seseorang selesai membangun rumah.
Tidak menunggu anak-anaknya dewasa.
Tidak menunggu semua cita-citanya tercapai.
Dan tidak menunggu seseorang merasa siap.
Kematian datang pada waktu yang telah ditentukan Allah.
Karena itu, pertanyaan terpenting bukan hanya:
“Kapan saya mati?”
Tetapi:
“Apa yang sudah saya siapkan ketika kematian datang?”
Yang Kita Bawa Bukan Harta
Ketika seseorang meninggal dunia, keluarga akan mengantarkannya.
Harta yang selama ini dikumpulkan tetap berada di rumah.
Kendaraan tetap berada di garasi.
Jabatan ditinggalkan.
Gelar tidak ikut masuk ke dalam liang kubur.
Rasulullah SAW bersabda:
“Mayit diikuti oleh tiga perkara: keluarganya, hartanya dan amalnya. Dua kembali dan satu tetap bersamanya. Keluarga dan hartanya kembali, sedangkan amalnya tetap bersamanya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Maka bukan berarti harta tidak penting.
Harta penting jika diperoleh dengan cara halal dan digunakan untuk kebaikan.
Justru harta dapat menjadi bekal akhirat ketika digunakan untuk membantu orang lain, menafkahi keluarga, bersedekah, membangun kemaslahatan dan melakukan amal jariyah.
Masalahnya bukan memiliki dunia, tetapi ketika dunia memiliki hati kita.
Mari Menikmati Hidup dengan Cara yang Benar
Saudaraku yang dirahmati Allah,
Mari kita menikmati kehidupan.
Tersenyumlah.
Sayangi keluarga.
Nikmati makanan yang halal.
Berwisata jika mampu.
Bangun usaha.
Bekerja dengan sungguh-sungguh.
Kejar cita-cita.
Tetapi jangan lupa kepada siapa semua nikmat itu berasal.
Ketika mendapatkan rezeki, bersyukurlah.
Ketika mendapatkan ujian, bersabarlah.
Ketika melakukan kesalahan, bertaubatlah.
Ketika memiliki kelebihan, berbagi.
Ketika memiliki kekuasaan, berlaku adil.
Dan ketika memiliki waktu, gunakan untuk mendekat kepada Allah.
Sebab kehidupan dunia bukan untuk ditinggalkan, tetapi untuk dijadikan jalan menuju kehidupan akhirat.
Sebelum Pulang, Sudahkah Kita Membawa Bekal?
Pada akhirnya, setiap perjalanan akan sampai pada titik pulang.
Kita tidak tahu kapan giliran kita.
Yang bisa kita lakukan adalah mempersiapkan bekal sebaik-baiknya.
Perbanyak amal saleh.
Jaga shalat.
Jaga lisan.
Jaga hubungan dengan sesama.
Berbakti kepada orang tua.
Sayangi keluarga.
Jangan mengambil hak orang lain.
Jauhi kezaliman.
Perbanyak sedekah.
Dan jangan pernah lelah memohon ampun kepada Allah SWT.
Hidup memang hanya sekali. Maka jadikan kehidupan ini berarti.
Kematian juga datang sekali. Maka jangan datang kepadanya tanpa bekal.
Semoga Allah SWT memberikan kita usia yang penuh keberkahan, kesehatan untuk beribadah, rezeki yang halal, hati yang selalu bersyukur, serta mengakhiri kehidupan kita dalam keadaan husnul khatimah.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Wabillahi taufiq wal hidayah.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Tinggalkan Balasan