Penulis: Ixan, Redaksi Perdetiknews.com

Ada hal-hal yang pernah kita perjuangkan dengan seluruh kemampuan yang kita punya.

Kita menunggunya dengan sabar. Kita menjaganya dengan harapan. Bahkan, diam-diam, kita telah membangun begitu banyak mimpi di atasnya.

Namun, pada akhirnya, sesuatu yang kita kira akan menjadi milik kita justru jatuh ke tangan orang lain.

Kita hanya bisa berdiri, menyaksikan sebuah pintu terbuka—bukan untuk kita.

Barangkali yang membuat hati terasa begitu berat bukan semata-mata karena kehilangan sebuah kesempatan, melainkan karena bersama kesempatan itu, ada banyak mimpi yang ikut tertinggal.

Ada keluarga yang ingin kita bahagiakan. Ada orang-orang yang ingin kita bantu. Ada harapan yang telah lama kita simpan, menunggu satu kesempatan untuk diwujudkan.

Ketika jalan itu ternyata membawa orang lain, hati pun bertanya dalam diam, mengapa bukan saya?

Pertanyaan itu manusiawi. Sebab kita telah berusaha, telah menunggu, bahkan telah membayangkan begitu banyak hal yang akan kita lakukan apabila kesempatan itu benar-benar menjadi milik kita.

Namun, hidup tidak selalu berjalan menurut peta yang kita gambar sendiri.

Kita sering mengira bahwa setelah berusaha begitu keras, hasil semestinya mengikuti keinginan kita. Padahal, ikhtiar adalah bagian kita, sedangkan hasil tidak sepenuhnya berada dalam kuasa kita.

Petani menanam benih, tetapi tidak dapat memerintahkan hujan untuk turun. Nelayan mengarungi lautan, tetapi tidak dapat menjamin ikan akan memenuhi jalanya.

Demikian pula manusia dalam mencari penghidupan. Kita boleh merencanakan, berusaha, dan berharap setinggi langit. Namun, kita tetap harus menyediakan ruang di dalam hati untuk menerima kenyataan yang tidak selalu sesuai dengan keinginan.

Di situlah barangkali hidup sedang mengajarkan sebuah bahasa yang tidak semua orang mudah memahaminya, keikhlasan.

Sebab, tidak semua yang pergi harus kita kejar kembali. Tidak semua yang gagal kita dapatkan berarti kita gagal dalam kehidupan.

Ada kesempatan yang terlepas, tetapi meninggalkan pelajaran. Ada pintu yang tertutup, tetapi memaksa kita melihat jalan lain. Ada harapan yang tidak terwujud, tetapi membuat kita memahami bahwa kebahagiaan tidak boleh digantungkan pada satu-satunya kemungkinan.

Kita sering merasa kehilangan karena terlalu lama menatap pintu yang tertutup.

Padahal, mungkin ada jalan lain yang sedang terbuka. Hanya saja, kita terlalu sibuk meratapi apa yang pergi hingga lupa memperhatikan apa yang masih bisa diperjuangkan.

Hari ini saya belajar satu hal, tidak semua kehilangan adalah hukuman.

Kadang, kehilangan adalah cara kehidupan mengajarkan kita untuk melepaskan apa yang tidak bisa kita genggam selamanya.

Mungkin pekerjaan itu memang bukan rezeki saya. Mungkin kesempatan itu memang menjadi jalan bagi orang lain.

Maka, biarlah ia menjadi milik mereka yang menerimanya.

Saya tidak ingin menghabiskan sisa perjalanan dengan terus bertanya, mengapa bukan saya? Sebab terlalu lama memandangi pintu yang tertutup hanya akan membuat kaki lupa melangkah.

Saya ingin kembali berjalan.

Tetap bekerja. Tetap berikhtiar. Tetap menanam kebaikan, meski belum tahu kapan akan memetik hasilnya.

Bukan karena kecewa telah hilang sepenuhnya, melainkan karena saya mulai memahami bahwa kecewa tidak boleh menjadi tempat tinggal bagi harapan.

Yang bukan untuk saya, biarlah menjadi milik mereka yang memang mendapatkannya.

Saya tidak perlu iri terhadap tangan yang menerima sesuatu yang tidak sampai ke tangan saya.

Sebab, kebahagiaan orang lain tidak seharusnya menjadi alasan bagi kita untuk kehilangan keyakinan terhadap jalan sendiri.

Jangan merasa rendah hanya karena orang lain lebih dahulu sampai. Jangan menganggap diri tertinggal hanya karena perjalanan kita lebih panjang.

Setiap orang mempunyai musimnya sendiri.

Ada pohon yang berbunga lebih dahulu, ada yang membutuhkan waktu lebih lama untuk berbuah.

Namun, tidak bijaksana menilai kehidupan sebuah pohon hanya karena ia belum berbunga ketika pohon lain telah dipenuhi warna.

Begitu pula hidup kita.

Jangan ukur perjalananmu dengan langkah orang lain. Jangan jadikan keberhasilan mereka sebagai alasan untuk meragukan kemampuanmu sendiri.

Barangkali kita hanya belum melihat tanah tempat kita sedang menanam.

Maka, teruslah menanam.

Teruslah berbuat baik, meski belum ada yang membalas. Teruslah bekerja, meski hasilnya belum seperti yang diharapkan. Teruslah berdoa, meski jawaban yang datang tidak selalu berbentuk apa yang kita minta.

Sebab, kita tidak pernah tahu melalui jalan mana Tuhan akan mempertemukan kita dengan kesempatan berikutnya.

Namun, ada satu hal yang perlu kita ingat: menerima takdir bukan berarti berhenti berusaha. Ikhlas bukan berarti menyerah kepada keadaan. Dan percaya kepada rezeki bukan berarti duduk diam menunggu keajaiban.

Keikhlasan adalah kemampuan menerima apa yang tidak dapat kita ubah, tanpa kehilangan keberanian untuk memperjuangkan apa yang masih bisa kita usahakan.

Kita tetap harus mengetuk pintu-pintu kehidupan. Jika satu pintu tidak terbuka, kita mencari jalan lain. Jika satu kesempatan berlalu, kita mempersiapkan diri untuk kesempatan berikutnya.

Jangan sampai satu kegagalan membuat kita menutup seluruh jendela harapan.

Sebab, hidup terlalu luas untuk disimpulkan dari satu pintu yang tidak terbuka.

Mungkin hari ini kita belum mengerti. Mungkin besok pun belum menemukan jawabannya.

Tetapi siapa tahu, beberapa tahun dari sekarang, ketika kita menoleh ke belakang, kita justru tersenyum dan berkata, ternyata, jalan yang dahulu begitu ingin saya tempuh bukan satu-satunya jalan menuju kebahagiaan.

Boleh jadi kita akan memahami bahwa ada banyak cara untuk membahagiakan keluarga. Ada banyak jalan untuk membantu sesama. Ada banyak kesempatan untuk menjadi manusia yang bermanfaat.

Satu pekerjaan mungkin gagal kita dapatkan, tetapi jangan sampai kita kehilangan tujuan hidup hanya karena pekerjaan itu tidak menjadi milik kita.

Satu kesempatan mungkin berpindah tangan, tetapi jangan biarkan semangat kita ikut berpindah kepada keputusasaan.

Sebab, pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang seberapa banyak yang berhasil kita miliki, melainkan juga tentang bagaimana kita menjalani apa yang ada di tangan kita.

Tentang rezeki, saya ingin belajar mempercayai satu hal, Tuhan tidak pernah kehabisan jalan untuk memberikan penghidupan kepada hamba-Nya.

Namun, kita juga tidak boleh menganggap bahwa setiap keinginan pasti akan datang dengan sendirinya.

Kita tetap harus berusaha, memperbaiki diri, membaca keadaan, dan berani mengambil jalan yang baru.

Barangkali rezeki yang kita harapkan tidak datang melalui pintu yang selama ini kita tunggu. Barangkali ia hadir melalui pekerjaan yang berbeda, pertemuan yang tidak direncanakan, atau kesempatan kecil yang semula tidak kita anggap berarti.

Karena itu, jangan terlalu sibuk meratapi satu pintu hingga lupa bahwa masih banyak jalan yang dapat ditempuh.

Yang pergi, ikhlaskan. Yang belum datang, usahakan. Yang masih ada, syukuri. Dan yang menjadi impian, perjuangkan kembali dengan cara yang lebih baik.

Hari ini, saya memilih untuk tidak berhenti bermimpi.

Saya hanya ingin belajar agar tidak lagi menggantungkan seluruh harapan pada satu kesempatan.

Saya ingin tetap percaya, tanpa memaksa kehidupan harus selalu berjalan sesuai keinginan saya.

Jika hari ini belum berhasil, saya akan mencoba lagi.

Jika hari ini belum sampai, saya akan melanjutkan perjalanan.

Dan jika sesuatu yang saya harapkan ternyata menjadi milik orang lain, saya akan belajar menerima tanpa harus kehilangan rasa syukur atas apa yang masih saya miliki.

Sebab, mungkin yang paling perlu kita jaga bukanlah kesempatan yang telah berlalu, melainkan hati agar tetap kuat menghadapi kesempatan yang akan datang.

Pada akhirnya, kita tidak selalu bisa menentukan pintu mana yang terbuka untuk kita. Tetapi kita masih bisa menentukan apakah setelah satu pintu tertutup, kita akan berhenti berjalan atau kembali menyusun langkah.

Saya memilih untuk terus berjalan.

Sebab, selama masih ada waktu, masih ada ikhtiar. Selama masih ada ikhtiar, masih ada kemungkinan. Dan selama kita masih percaya kepada Tuhan, tidak seharusnya satu kegagalan membuat kita kehilangan seluruh harapan.

Saya tidak tahu kapan rezeki itu akan datang. Saya juga tidak tahu melalui jalan mana ia akan mengetuk kehidupan saya.

Namun, saya tidak ingin berhenti menyiapkan diri hanya karena satu kesempatan tidak menjadi milik saya.

Biarlah yang bukan bagian saya berjalan menuju pemiliknya.

Saya akan tetap berjalan menuju apa yang masih bisa saya perjuangkan.

Dan jika suatu hari nanti Tuhan membukakan pintu yang lain, semoga saya menerimanya bukan dengan kesombongan karena merasa berhasil, melainkan dengan kerendahan hati karena menyadari betapa panjang perjalanan yang telah saya lalui.

Mungkin saat itulah saya akan mengerti: tidak semua yang kita inginkan harus kita dapatkan, dan tidak semua yang gagal kita raih berarti kehidupan telah menutup seluruh jalan bagi kita.

Sebab, terkadang, yang kita sebut kehilangan hanyalah satu bagian kecil dari perjalanan panjang yang belum selesai.

Selamat Jumat.

Semoga Allah melapangkan rezeki kita, menguatkan hati kita ketika kehilangan kesempatan, meluaskan pandangan kita ketika satu jalan tertutup, dan menjaga kita agar tidak kehilangan harapan hanya karena sesuatu yang kita inginkan belum menjadi kenyataan.

Semoga kita diberi hati yang ikhlas untuk menerima, pikiran yang jernih untuk memahami, dan keberanian untuk terus berikhtiar.

Sebab, rezeki bukan hanya tentang apa yang kita dapatkan hari ini, tetapi juga tentang bagaimana kita tetap menjadi manusia yang baik dalam perjalanan mencarinya.

Yang tertunda, semoga menemukan waktunya. Yang belum tercapai, semoga menemukan jalannya. Dan yang telah berlalu, semoga meninggalkan kebijaksanaan untuk melangkah lebih jauh.

Aamin.

Mayjen TNI (Purn.) Andi Sumangerukka, S.E., M.M.
Provinsi Sulawesi Tenggara
Polling aktif
Ikut Polling →
dr. Hj. Siska Karina Imran, SKM
Kota Kendari
Polling aktif
Ikut Polling →
Yusran Akbar
Kabupaten Konawe
Polling aktif
Ikut Polling →
La Ode Darwin
Kabupaten Muna Barat
Polling aktif
Ikut Polling →
H. Amri Jamaluddin, S.STP., M.Si.
Kabupaten Kolaka
Polling aktif
Ikut Polling →
Irham Kalenggo, S.Sos., M.Si
Kabupaten Konawe Selatan
Polling aktif
Ikut Polling →
Rifqi Saifullah Razak, S.T.
Kabupaten Konawe Kepulauan
Polling aktif
Ikut Polling →
Drs. H. Nur Rahman Umar, M.H.
Kabupaten Kolaka Utara
Polling aktif
Ikut Polling →
Drs. H. Bachrun, M.Si
Kabupaten Muna
Polling aktif
Ikut Polling →
H. Muhammad Adios, S.Sos
Kabupaten Buton Selatan
Polling aktif
Ikut Polling →
Dr. H. Azhari, S.STP., M.Si
Kabupaten Buton Tengah
Polling aktif
Ikut Polling →
Alvin Akawijaya Putra, S.H.
Kabupaten Buton
Polling aktif
Ikut Polling →
Afirudin Mathara, S.H., M.H.
Kabupaten Buton Utara
Polling aktif
Ikut Polling →
Ir. H. Burhanuddin, M.Si.
Kabupaten Bombana
Polling aktif
Ikut Polling →
H. Haliana, S.E.
Kabupaten Wakatobi
Polling aktif
Ikut Polling →
H. Yusran Fahim, S.E.
Kota Baubau
Polling aktif
Ikut Polling →
Dr. H. Ikbar, S.H., M.H.
Kabupaten Konawe Utara
Polling aktif
Ikut Polling →
H. Yosep Sahaka, S.Pd., M.Pd
Kabupaten Kolaka Timur
Polling aktif
Ikut Polling →
52 / 100 Skor SEO