MIMBAR | Oleh dr. H. Sukirman, MARS, M.Kes., Sp.PA.
Ketua IKADI Wilayah Sulawesi Tenggara
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Pernahkah kita berpikir, apa yang akan tersisa dari diri kita ketika suatu hari kita tidak lagi berada di tengah-tengah orang yang kita cintai?
Bukan rumah yang kita tinggalkan.
Bukan kendaraan yang kita miliki.
Bukan jabatan yang pernah kita duduki.
Bukan pula banyaknya harta yang pernah kita kumpulkan.
Tetapi mungkin ada sesuatu yang jauh lebih sederhana:
Doa orang-orang yang pernah kita bantu.
Senyum orang-orang yang pernah kita bahagiakan.
Dan air mata orang-orang yang merasa kehilangan karena kebaikan kita.
Saudaraku yang dirahmati Allah,
Ada manusia yang ketika datang, membuat suasana menjadi hangat.
Ada yang ketika berbicara, membuat hati yang sedang gelisah menjadi tenang.
Ada yang ketika melihat orang lain kesusahan, tidak sanggup berpaling.
Dan ada pula manusia yang mungkin tidak memiliki banyak harta, tetapi kehadirannya selalu membawa manfaat.
Inilah keindahan kepedulian.
Rasulullah SAW mengajarkan bahwa manusia terbaik adalah mereka yang memberikan manfaat kepada orang lain.
Sebab ternyata, kemuliaan manusia bukan hanya diukur dari seberapa banyak ia melakukan ibadah untuk dirinya sendiri, tetapi juga dari seberapa besar kebaikan yang mengalir dari dirinya kepada orang lain.
Seekor Semut yang Tidak Memikirkan Dirinya Sendiri
Allah SWT mengabadikan kisah seekor semut dalam QS. An-Naml ayat 18.
Ketika pasukan Nabi Sulaiman AS melintas, seekor semut memperingatkan semut-semut lainnya agar segera masuk ke sarang supaya tidak terinjak.
Bayangkan.
Makhluk sekecil itu saja tidak hanya memikirkan dirinya sendiri.
Ia melihat bahaya.
Ia merasa khawatir.
Lalu ia berusaha menyelamatkan yang lain.
Semut yang kecil mengajarkan kepada kita tentang hati yang besar.
Lalu kita?
Ketika melihat saudara kita sedang kesulitan, apakah kita peduli?
Ketika mengetahui tetangga kita sedang sakit, apakah kita datang menjenguk?
Ketika melihat seseorang sedang terpuruk, apakah kita mengulurkan tangan?
Atau kita hanya berkata dalam hati:
“Itu bukan urusan saya.”
Terkadang kita terlalu sibuk menyelamatkan diri sendiri sampai lupa bahwa mungkin ada seseorang di sekitar kita yang sedang menunggu satu uluran tangan.
Burung Hud-Hud dan Hati yang Gelisah Melihat Kesalahan
Kemudian Allah menceritakan burung Hud-Hud dalam QS. An-Naml.
Hud-Hud menemukan suatu kaum yang menyembah matahari.
Ia membawa berita tersebut kepada Nabi Sulaiman AS.
Dari kisah ini kita dapat merenungkan sebuah bentuk kepedulian yang lebih dalam.
Ada kepedulian terhadap keselamatan dunia.
Tetapi ada pula kepedulian terhadap keselamatan iman dan akhirat.
Kadang kita mudah merasa kasihan ketika melihat seseorang tidak memiliki makanan.
Tetapi apakah hati kita juga merasa sedih ketika melihat seseorang mulai jauh dari Allah?
Ketika saudara kita mulai meninggalkan shalat?
Ketika anak kita mulai kehilangan kecintaan kepada Al-Qur’an?
Ketika orang yang kita cintai mulai terseret pergaulan yang buruk?
Apakah hati kita masih gelisah?
Kepedulian bukan berarti merasa lebih suci.
Bukan pula merasa lebih baik daripada orang lain.
Tetapi karena kita mencintai mereka, kita ingin mereka mendapatkan kebaikan.
Maka nasihatilah dengan lembut.
Dekati dengan kasih sayang.
Jangan menghakimi.
Jangan mempermalukan.
Karena terkadang seseorang tidak membutuhkan ceramah panjang.
Ia hanya membutuhkan seseorang yang tetap mau menggenggam tangannya ketika semua orang mulai meninggalkannya.
Seorang Pemuda yang Tidak Rela Melihat Kaumnya Tersesat
Dalam QS. Yasin ayat 20-27, Allah menceritakan seorang laki-laki yang datang dari ujung kota untuk membela para utusan Allah.
Ia tidak tinggal diam.
Ia datang.
Ia menyampaikan kebenaran.
Ia mengambil risiko.
Dan meskipun akhirnya menghadapi kekerasan dari kaumnya, kisahnya diabadikan Allah dalam Al-Qur’an.
Yang paling menyentuh adalah ketika ia mendapatkan kemuliaan dari Allah.
Ia masih memikirkan kaumnya.
Ia berkata:
“Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui…”
Subhanallah.
Bahkan setelah mendapatkan keselamatan, hatinya masih tertuju kepada orang-orang yang dahulu menyakitinya.
Inilah hati yang luar biasa.
Ia tidak sibuk berkata:
“Rasakan akibat perbuatan kalian.”
Sebaliknya, ia berharap:
“Andai saja mereka mengetahui apa yang telah Allah berikan kepadaku.”
Betapa jauh hati kita dari keteladanan seperti itu.
Mungkin Ada Seseorang yang Sedang Menunggu Kebaikan Kita
Saudaraku,
Mungkin hari ini ada seorang ibu yang diam-diam menangis karena persoalan ekonomi.
Ada seorang ayah yang terlihat kuat, tetapi sebenarnya sedang kelelahan.
Ada seorang anak yang terlihat ceria, tetapi menyimpan kesedihan.
Ada tetangga yang sedang sakit tetapi tidak ingin merepotkan orang lain.
Ada teman yang sudah lama tidak menghubungi kita bukan karena lupa, tetapi mungkin karena sedang menghadapi masalah.
Dan mungkin…
mereka hanya membutuhkan satu orang yang bertanya:
“Kamu baik-baik saja?”
Kalimat itu sederhana.
Tetapi bagi seseorang yang merasa sendirian, mungkin kalimat itu sangat berarti.
Maka jangan remehkan perhatian kecil.
Jangan remehkan sedekah kecil.
Jangan remehkan satu senyuman.
Jangan remehkan satu doa.
Jangan remehkan satu pesan singkat:
“Semoga kamu baik-baik saja. Kalau membutuhkan saya, jangan sungkan.”
Kita tidak pernah tahu kebaikan kecil mana yang kelak menjadi sebab Allah memberikan rahmat kepada kita.
Pada Akhirnya, Kita Semua Akan Pergi
Suatu hari nanti, kita akan meninggalkan dunia ini.
Rumah akan tetap berdiri.
Pekerjaan akan dilanjutkan orang lain.
Jabatan akan berpindah.
Harta akan diwariskan.
Kursi yang pernah kita duduki akan ditempati orang lain.
Tetapi mungkin…
Ada seseorang yang ketika mendengar nama kita akan berkata:
“Dulu dia pernah membantu saya.”
Ada yang berkata:
“Dulu dia pernah menguatkan saya ketika saya hampir menyerah.”
Ada yang berkata:
“Dulu dia pernah mengingatkan saya untuk kembali kepada Allah.”
Dan mungkin ada seseorang yang diam-diam mengangkat kedua tangannya:
“Ya Allah, rahmati orang yang dulu pernah berbuat baik kepadaku.”
Bukankah itu salah satu bentuk kehidupan yang paling indah?
Jadilah Orang yang Dirindukan karena Kebaikan
Saudaraku yang dirahmati Allah,
Kita tidak tahu berapa lama lagi umur kita.
Tetapi kita masih memiliki kesempatan untuk meninggalkan jejak kebaikan.
Mulailah dari rumah.
Sayangi pasangan.
Peluk anak-anak.
Hormati orang tua.
Perhatikan saudara.
Pedulilah kepada tetangga.
Bantu orang yang kesulitan.
Dan ketika melihat seseorang mulai jauh dari Allah, rangkul dia dengan kasih sayang, bukan dengan penghinaan.
Karena kita tidak pernah tahu…
Mungkin suatu hari nanti, justru orang yang hari ini kita bantu akan menjadi orang yang mendoakan kita ketika kita sudah tidak mampu lagi mendoakan diri sendiri.
Maka jangan hidup hanya untuk dikenal.
Hiduplah agar kehadiran kita dirasakan.
Jangan berusaha menjadi orang yang ditakuti.
Jadilah orang yang membuat orang lain merasa aman.
Jangan mengejar agar nama kita selalu disebut.
Cukuplah kebaikan kita menjadi sesuatu yang Allah ketahui.
Karena pada akhirnya…
Kita semua akan pergi.
Yang tersisa bukan berapa banyak orang yang mengenal kita.
Tetapi berapa banyak hati yang pernah kita sentuh dengan kebaikan.
Semoga ketika suatu hari langkah kita berhenti, masih ada doa-doa baik yang mengiringi kepergian kita.
Semoga ketika nama kita disebut, bukan keburukan yang dikenang, melainkan kebaikan.
Dan semoga Allah menjadikan kita manusia yang ketika hadir membawa ketenangan, ketika berbicara membawa kebaikan, ketika memiliki memberi manfaat, dan ketika pergi meninggalkan kerinduan.
Karena hidup yang paling indah bukanlah hidup yang paling banyak memiliki, tetapi hidup yang paling banyak memberi arti.
Wabillahi taufiq wal hidayah.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.





Tinggalkan Balasan