(Media Inspirasi, Motivasi, Bimbingan, Akhlak dan Religi)
Oleh: dr. H. Sukirman, MARS., M.Kes., Sp.PA, Ketua IKADI Wilayah Sulawesi Tenggara
Segala sesuatu di alam semesta ini telah terukir indah dalam Lauhul Mahfuzh, jauh sebelum nafas pertama dihembuskan dan detik waktu mulai berdetak.
Tiada sehelai daun pun yang gugur tanpa izin-Nya. Tiada pula satu pun kesusahan maupun kebahagiaan yang datang melainkan telah tertulis dalam garis ketetapan-Nya.
Qada dan qadar adalah kepastian mutlak yang mengajarkan hati manusia untuk tunduk pada kebesaran Sang Pencipta.
Bagi seorang mukmin, takdir bukanlah sebuah alasan untuk berputus asa. Sebaliknya, keyakinan kepada takdir dapat menjadi pelabuhan ketenangan yang paling dalam.
Ketika badai ujian menerpa, rencana runtuh seketika, dan harapan seolah menemui jalan buntu, jiwa seorang mukmin tidak seharusnya goyah.
Ia meyakini bahwa di balik setiap skenario yang tampak rumit, terdapat hikmah yang mungkin belum mampu dipahami manusia. Sebab pengetahuan manusia terbatas, sementara ilmu Allah meliputi segala sesuatu.
Di situlah seorang hamba belajar menerima bahwa tidak semua yang diinginkan harus menjadi kenyataan, dan tidak semua yang dianggap sebagai kegagalan merupakan keburukan.
Sikap terbaik seorang hamba dalam menghadapi takdir adalah tawakal.
Namun, tawakal bukan berarti duduk diam tanpa ikhtiar. Tawakal justru menuntut manusia mengerahkan segala daya dan upaya terbaik, mencurahkan keringat dan doa, kemudian menyerahkan sepenuhnya hasil akhir kepada Zat Yang Maha Memegang kendali.
Manusia wajib berusaha, tetapi manusia tidak memiliki kuasa mutlak atas hasil.
Karena itu, seorang mukmin tidak boleh menjadikan takdir sebagai alasan untuk berhenti berjuang. Sebaliknya, keyakinan kepada takdir seharusnya membuat seseorang lebih kuat menjalani proses, lebih sabar menghadapi ujian, dan lebih rendah hati ketika memperoleh keberhasilan.
Ketika usaha telah dilakukan dengan sungguh-sungguh, doa telah dipanjatkan, maka saatnya hati berserah kepada Allah.
Allah SWT berfirman dalam QS. At-Talaq ayat 3:
“Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.”
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa tawakal bukan akhir dari ikhtiar, melainkan bentuk penyerahan hati setelah seorang hamba menjalankan kewajibannya dengan sebaik-baiknya.
Pada akhirnya, manusia boleh menyusun rencana, tetapi Allah yang menentukan hasilnya.
Manusia boleh berharap, tetapi Allah mengetahui apa yang terbaik.
Dan ketika kenyataan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, seorang mukmin memiliki keyakinan untuk tetap melangkah: berikhtiar dengan sungguh-sungguh, berdoa dengan penuh harap, bersabar dalam ujian, bersyukur atas nikmat, dan bertawakal kepada Allah SWT.
Sebab boleh jadi, sesuatu yang hari ini terasa berat justru sedang membawa kita menuju kebaikan yang belum kita ketahui.
Allah Maha Mengetahui, sementara manusia hanya mengetahui apa yang diperlihatkan kepadanya.



Tinggalkan Balasan