KENDARI – Perubahan wajah infrastruktur jalan mulai terlihat di sejumlah wilayah Sulawesi Tenggara (Sultra). Melalui program JAMAAH (Jalan Mulus Antar Wilayah), sejumlah ruas yang sebelumnya rusak, berlubang, berbatu hingga sulit dilalui kini berangsur ditingkatkan menjadi jalan yang lebih layak dan nyaman bagi masyarakat.

Program yang didorong Pemerintah Provinsi Sultra di bawah kepemimpinan Gubernur Sultra Mayjen TNI (Purn.) Andi Sumangerukka tersebut tidak hanya menyasar kawasan perkotaan, tetapi juga ruas-ruas penghubung antarkecamatan, antarkabupaten hingga kawasan pelosok.

Dokumentasi before-after yang dipublikasikan memperlihatkan perubahan kondisi sejumlah ruas jalan secara nyata.

Dari jalan yang sebelumnya berupa permukaan tanah, bebatuan dan aspal yang rusak, kini sejumlah lokasi telah memiliki permukaan aspal yang lebih baik, marka jalan, drainase, bahu jalan serta penanganan konstruksi pada titik-titik rawan.

1. Jalan Kompleks Pangkalan TNI AU Haluoleo – Parkiran Gedung VIP Silondae

Salah satu perubahan terlihat pada Jalan Kompleks Pangkalan TNI AU Haluoleo dan Parkiran Gedung VIP Silondae, Konawe Selatan.

Pada kondisi sebelumnya, ruas tersebut terlihat sempit dengan permukaan jalan yang belum memadai. Setelah dilakukan peningkatan, jalan terlihat lebih rapi dengan permukaan aspal yang lebih baik sehingga memberikan akses yang lebih nyaman bagi kendaraan maupun masyarakat yang melintas.

Ruas ini juga memperlihatkan bagaimana peningkatan infrastruktur jalan dapat memberikan perubahan langsung terhadap lingkungan sekitar fasilitas publik.

2. Jalan Ronta–Lambale, Buton Utara

Perubahan mencolok juga terlihat pada Jalan Ronta–Lambale, Kabupaten Buton Utara.

Kondisi sebelumnya menunjukkan jalan dengan permukaan yang belum optimal dan dikelilingi vegetasi. Setelah peningkatan, ruas tersebut berubah menjadi jalan beraspal dengan marka tengah dan saluran di sisi jalan.

Ruas Ronta–Lambale memiliki arti penting karena menjadi salah satu jalur konektivitas masyarakat di wilayah Buton Utara.

3. Jalan Alangga–Tinanggea, Konawe Selatan

Selanjutnya terdapat Jalan Alangga–Tinanggea, Konawe Selatan.

Foto before memperlihatkan kondisi jalan yang masih membutuhkan peningkatan. Sementara pada foto after, ruas tersebut telah berubah menjadi jalan beraspal dengan marka tengah serta saluran drainase di kedua sisi.

Perubahan ini menjadi bagian penting dalam meningkatkan akses masyarakat di wilayah Konawe Selatan sekaligus mendukung mobilitas dan distribusi hasil produksi masyarakat.

4. Jalan Punggaluku–Alangga, Konawe Selatan

Ruas Jalan Punggaluku–Alangga, Konawe Selatan, juga masuk dalam dokumentasi perubahan.

Sebelumnya, kondisi jalan terlihat kurang nyaman dengan permukaan yang tidak optimal. Setelah pembangunan, jalan tampak lebih lebar, mulus dan dilengkapi marka jalan.

Bahkan pada bagian tertentu terlihat fasilitas penyeberangan berupa marka zebra cross yang semakin memperhatikan aspek keselamatan pengguna jalan.

5. Jalan SP.3 Konda–Bandara Haluoleo, Konawe Selatan

Perubahan berikutnya terlihat pada Jalan SP.3 Konda–Bandara Haluoleo, Konawe Selatan.

Ruas yang sebelumnya masih berupa jalan berbatu dan belum beraspal tersebut kini terlihat memiliki lapisan aspal yang lebih baik.

Peningkatan ruas ini memiliki nilai strategis karena berkaitan dengan konektivitas menuju kawasan Bandara Haluoleo sekaligus akses masyarakat di wilayah Konawe Selatan.

6. Jalan Lambale–Ereke, Buton Utara

Dokumentasi lainnya memperlihatkan Jalan Lambale–Ereke, Buton Utara.

Pada foto before, jalan terlihat rusak dan permukaannya tidak rata. Kondisi tersebut kemudian berubah setelah dilakukan peningkatan.

Foto after menunjukkan jalan yang telah diaspal dengan marka tengah dan saluran drainase di sisi jalan.

Perbaikan ruas tersebut diharapkan mempermudah mobilitas masyarakat sekaligus memperlancar hubungan antarkawasan di Buton Utara.

7. Jalan Made Sabara, Kendari

Di wilayah Kota Kendari, perubahan terlihat pada Jalan Made Sabara.

Foto before menunjukkan alat berat bekerja melakukan pembongkaran dan perbaikan pada bagian jalan yang mengalami kerusakan.

Sementara kondisi after memperlihatkan jalan yang telah kembali mulus, memiliki marka tengah serta garis tepi jalan.

Ruas ini menjadi contoh bahwa program peningkatan infrastruktur juga menyentuh kawasan perkotaan yang memiliki aktivitas lalu lintas cukup tinggi.

8. Penanganan Longsoran Batas Kabupaten Konawe–Betao Segmen II

JAMAAH juga tidak hanya berkaitan dengan pengaspalan. Salah satu dokumentasi memperlihatkan penanganan longsoran batas Kabupaten Konawe–Betao Segmen II.

Pada kondisi sebelumnya terlihat ruas jalan yang berada di kawasan rawan longsor.

Dalam penanganannya, konstruksi diperkuat dengan struktur penahan dan pemasangan material pengaman lereng. Langkah tersebut penting untuk menjaga badan jalan sekaligus mengurangi risiko kerusakan akibat pergerakan tanah.

9. Penanganan Longsoran Batas Kabupaten Konawe–Betao Segmen I

Penanganan serupa juga terlihat pada batas Kabupaten Konawe–Betao Segmen I.

Dokumentasi menunjukkan adanya pekerjaan konstruksi pada kawasan yang memiliki kontur dan kondisi tanah yang membutuhkan penguatan.

Pembangunan struktur penahan dan penataan badan jalan menjadi bagian dari upaya menjaga konektivitas tetap berjalan, khususnya pada kawasan yang rawan longsor.

10. Jalan Poli-Polia – Batas Kabupaten Konawe Selatan

Perubahan juga terlihat pada Jalan Poli-Polia – Batas Kabupaten Konawe Selatan.

Kondisi sebelumnya memperlihatkan jalan dengan permukaan yang masih kurang baik dan dikelilingi perkebunan.

Setelah peningkatan, ruas tersebut tampak lebih rapi dengan aspal dan marka jalan yang jelas.

Jalan ini menjadi salah satu akses yang penting bagi mobilitas masyarakat di kawasan perbatasan wilayah.

11. Jalan Motaha–Alangga (DBH Sawit), Konawe Selatan

Selanjutnya terdapat Jalan Motaha–Alangga (DBH Sawit), Konawe Selatan.

Foto before memperlihatkan kondisi jalan yang penuh kerusakan dan lubang. Kondisi tersebut kemudian berubah menjadi jalan beraspal dengan marka tengah dan saluran pada sisi jalan.

Peningkatan jalan tersebut sekaligus memperlihatkan pemanfaatan dukungan DBH Sawit untuk pembangunan infrastruktur yang berkaitan dengan kawasan masyarakat dan aktivitas ekonomi.

12. Jalan SP.3 Bubu–Ronta, Buton Utara

Ruas lain yang mengalami perubahan adalah Jalan SP.3 Bubu–Ronta, Buton Utara.

Sebelumnya, kondisi jalan terlihat masih berupa permukaan tanah dan bebatuan dengan aktivitas pekerja di lapangan.

Setelah peningkatan, jalan berubah menjadi jalur beraspal dengan marka tengah dan sisi jalan yang lebih tertata.

Perubahan tersebut membuka akses yang lebih baik bagi masyarakat di wilayah Buton Utara.

13. Jalan Pramuka, Kendari

Sementara di Kota Kendari, dokumentasi juga memperlihatkan Jalan Pramuka.

Kondisi before memperlihatkan jalan dengan permukaan yang kurang baik dan lingkungan yang belum tertata optimal.

Pada kondisi after, ruas tersebut telah berubah menjadi jalan beraspal dengan permukaan lebih baik serta jembatan yang terlihat lebih tertata.

Ruas ini menunjukkan bahwa peningkatan infrastruktur JAMAAH juga mencakup akses dalam kawasan perkotaan.Deretan dokumentasi tersebut memperlihatkan satu pola yang sama: before dan after yang berbeda secara signifikan.

Jalan yang sebelumnya rusak, berbatu, berlubang atau belum memiliki permukaan yang layak kini mulai berubah menjadi jalan yang lebih nyaman.

Namun, manfaat pembangunan jalan tidak berhenti pada kenyamanan berkendara.

Jalan yang baik memiliki hubungan langsung dengan aktivitas ekonomi masyarakat.

Petani lebih mudah mengangkut hasil kebun. Pedagang lebih mudah mendistribusikan barang. Masyarakat lebih cepat menuju pusat pelayanan kesehatan, pendidikan maupun pemerintahan.

Bagi wilayah yang selama ini memiliki keterbatasan akses, pembangunan jalan bahkan dapat menjadi pintu masuk bagi tumbuhnya aktivitas ekonomi baru.

Dari Kendari, Konawe Selatan hingga Buton Utara, dokumentasi tersebut memperlihatkan cakupan pekerjaan yang cukup beragam.

Ada ruas perkotaan seperti Jalan Made Sabara dan Jalan Pramuka, ada jalur strategis seperti SP.3 Konda–Bandara Haluoleo, serta ruas penghubung antarkawasan seperti Alangga–Tinanggea, Punggaluku–Alangga, Ronta–Lambale hingga Lambale–Ereke.

Bahkan, pekerjaan tidak hanya berupa pengaspalan. Penanganan longsoran batas Kabupaten Konawe–Betao Segmen I dan Segmen II menunjukkan adanya upaya menangani persoalan konstruksi dan kondisi geografis yang dapat mengganggu konektivitas.

Program JAMAAH pada akhirnya bukan hanya tentang bagaimana jalan terlihat mulus dalam foto.

Lebih jauh, jalan yang baik diharapkan menjadi urat nadi pergerakan masyarakat dan ekonomi daerah.

Ketika akses semakin mudah, waktu tempuh dapat ditekan, biaya transportasi lebih efisien dan distribusi hasil produksi masyarakat menjadi lebih lancar.

Perubahan dari kondisi jalan lama menuju jalan yang lebih baik juga menjadi gambaran arah pembangunan infrastruktur Sultra: membuka konektivitas, memperkuat akses masyarakat dan mendorong pemerataan pembangunan hingga ke berbagai wilayah.

Bagi masyarakat yang setiap hari menggunakan jalan tersebut, perubahan itu sederhana tetapi terasa: jalan yang dulu sulit dilalui, kini menjadi jalan yang lebih nyaman untuk dilewati.

Editor: San