Oleh: dr. H. Sukirman, MARS, M.Kes., Sp.PA.
Ketua IKADI Wilayah Sulawesi Tenggara

Di era modern, manusia sering terjebak dalam anggapan bahwa kebahagiaan berbanding lurus dengan banyaknya barang yang dimiliki.

Belanja impulsif, tuntutan gaya hidup, cicilan yang berlebihan hingga jeratan pinjaman daring menjadi fenomena yang semakin dekat dengan kehidupan masyarakat.

Persoalannya, gaya hidup konsumtif bukan hanya dapat mengganggu ketahanan ekonomi keluarga. Jika tidak dikendalikan, ia juga dapat mengikis nilai-nilai moral dan integritas seseorang.

Terlebih bagi mereka yang memegang jabatan dan amanah publik.

Ketika keinginan untuk hidup mewah tidak lagi sebanding dengan kemampuan memperoleh penghasilan yang halal, seseorang dapat berada dalam situasi yang penuh godaan. Keinginan memiliki kendaraan mewah, rumah besar, fasilitas berlebihan, atau mempertahankan gaya hidup tertentu dapat membuat batas antara kebutuhan dan keinginan semakin kabur.

Di sinilah integritas diuji.

Seorang pejabat publik bukan hanya dituntut memiliki kemampuan menjalankan tugas, tetapi juga harus mampu menjaga diri dari godaan harta, jabatan, dan kepentingan pribadi.

Sebab jabatan adalah amanah, bukan kesempatan untuk memperkaya diri.

Allah SWT telah mengingatkan manusia agar tidak berlebih-lebihan dalam membelanjakan harta.

Dalam QS. Al-Isra ayat 26-27, Allah SWT berfirman:

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan.”

Ayat tersebut mengajarkan bahwa mengelola harta bukan sekadar persoalan kemampuan ekonomi, tetapi juga bagian dari tanggung jawab seorang hamba kepada Allah.

Karena itu, seorang Muslim perlu membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Tidak semua yang mampu dibeli harus dibeli.

Tidak semua yang sedang menjadi tren harus dimiliki.

Dan tidak semua gaya hidup yang terlihat di media sosial harus diikuti.

Sikap sederhana bukan berarti hidup dalam kekurangan. Kesederhanaan adalah kemampuan untuk menempatkan sesuatu sesuai kebutuhan dan kemampuan.

Bagi seorang pejabat, prinsip ini menjadi semakin penting.

Ketika gaya hidup dapat dikendalikan, godaan untuk memperoleh harta dengan cara yang tidak benar juga dapat ditekan.

Sebaliknya, ketika gengsi dan keinginan menguasai kehidupan, seseorang bisa kehilangan rasa cukup.

Rasulullah SAW mengingatkan umatnya tentang bahaya ketika kehidupan dunia menjadi tujuan utama.

Dalam hadis riwayat Tirmidzi disebutkan bahwa Rasulullah SAW mengkhawatirkan ketika dunia dibentangkan kepada umatnya, lalu mereka berlomba-lomba mendapatkannya hingga dunia tersebut membinasakan mereka.

Pesan ini sangat relevan bagi siapa pun yang mendapatkan kekuasaan, jabatan, maupun kelapangan harta.

Jabatan memberikan akses.

Kekuasaan memberikan kesempatan.

Harta memberikan fasilitas.

Namun semuanya sekaligus merupakan ujian.

Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin besar pula amanah yang harus dipertanggungjawabkan.

Karena itu, seorang pejabat yang mampu hidup sederhana sesungguhnya sedang membangun benteng bagi dirinya sendiri.

Ia tidak mudah tergoda untuk mengejar kekayaan secara berlebihan.

Ia tidak perlu mempertahankan citra kehidupan mewah.

Dan yang paling penting, ia dapat menjalankan amanah dengan hati yang lebih tenang.

Qanaah sering kali disalahpahami sebagai ajaran untuk menerima keadaan tanpa berusaha.

Padahal qanaah bukan berarti menolak kekayaan.

Qanaah adalah merasa cukup atas rezeki yang halal sambil tetap berusaha memperbaiki kehidupan.

Seorang Muslim boleh kaya. Seorang pejabat boleh memiliki harta. Seorang pengusaha boleh menikmati hasil usahanya.

Namun, semuanya harus diperoleh dengan cara yang halal dan digunakan secara bertanggung jawab.

Sebab yang menjadi persoalan bukan semata-mata berapa banyak harta yang dimiliki, tetapi dari mana harta itu diperoleh dan untuk apa digunakan.

Allah SWT berfirman dalam QS. At-Talaq ayat 2-3:

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.”

Rezeki yang halal mungkin tidak selalu membuat seseorang terlihat paling kaya.

Tetapi rezeki yang halal menghadirkan ketenangan.

Sementara harta yang diperoleh dengan cara yang tidak benar dapat menjadi beban yang terus mengikuti seseorang, bahkan ketika ia telah kehilangan jabatan dan kekuasaan.

Ada tiga hal yang perlu menjadi pegangan.

Pertama, hidup sesuai kemampuan dan menjaga integritas.

Evaluasi pengeluaran secara jujur. Jangan menjadikan gaya hidup sebagai kebutuhan. Bagi pejabat publik, kesederhanaan bukan sekadar pilihan pribadi, tetapi juga bagian dari menjaga kepercayaan masyarakat.

Kedua, tahan diri dari gengsi sosial.

Media sosial sering menampilkan kehidupan yang tampak sempurna. Rumah mewah, kendaraan mahal, perjalanan ke berbagai tempat dan gaya hidup glamor dapat membuat seseorang merasa harus mengikuti standar yang sama.

Padahal harga diri manusia tidak ditentukan oleh barang yang dimilikinya.

Kehormatan justru lahir dari akhlak, kejujuran dan kemampuan menjaga amanah.

Ketiga, berhati-hati dengan utang dan gaya hidup berlebihan.

Utang untuk kebutuhan produktif tentu berbeda dengan utang yang hanya digunakan untuk memenuhi gengsi.

Jangan sampai seseorang bekerja keras bukan untuk meningkatkan kualitas kehidupan, tetapi hanya untuk membayar cicilan demi mempertahankan gaya hidup yang sebenarnya tidak mampu ia tanggung.

Lebih baik hidup sederhana dengan hati tenang daripada hidup mewah dengan perasaan terus-menerus dikejar kebutuhan.

Pada akhirnya, kehidupan dunia akan berlalu.

Jabatan akan berakhir.

Harta akan ditinggalkan.

Kekuasaan akan berganti.

Yang tersisa adalah amal dan nama baik.

Karena itu, jangan ukur keberhasilan hidup hanya dari seberapa banyak harta yang berhasil dikumpulkan.

Ukurlah dari seberapa halal harta itu diperoleh, seberapa besar manfaatnya bagi orang lain, dan seberapa baik amanah yang telah dijalankan.

Bagi para pemegang jabatan, ingatlah bahwa masyarakat mungkin hanya melihat masa jabatan.

Tetapi Allah SWT mengetahui seluruh amanah yang dijalankan.

Jangan biarkan gaya hidup mengalahkan integritas. Jangan biarkan gengsi mengalahkan rasa cukup. Dan jangan biarkan jabatan berubah menjadi jalan menuju kehancuran diri.

Hidup sederhana bukan berarti hidup tanpa cita-cita.

Hidup sederhana adalah kemampuan untuk tetap merasa cukup ketika memiliki kesempatan untuk mengambil lebih banyak.

Semoga Allah SWT memberikan kita rezeki yang halal, hati yang qanaah, kehidupan yang penuh keberkahan, serta kekuatan untuk menjaga amanah.

Sebab pada akhirnya, warisan terbaik bukanlah harta yang kita tinggalkan, melainkan nama baik, amal saleh, dan teladan integritas yang terus dikenang setelah kita tiada.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

57 / 100 Skor SEO