MIMBAR | Media Inspirasi, Motivasi, Bimbingan, Akhlak dan Religi
Oleh: dr. H. Sukirman, MARS, M.Kes., Sp.PA.
Ketua IKADI Wilayah Sulawesi Tenggara
Di tengah hiruk-pikuk dunia yang penuh ketidakpastian, hati manusia sering kali diliputi gelisah, cemas, galau, bahkan hampa.
Kita mencari ketenangan dari berbagai arah. Ada yang mengejarnya melalui harta, jabatan, kesuksesan, perjalanan, hiburan, hingga berbagai kesenangan duniawi.
Namun, sering kali semua itu hanya menghadirkan ketenangan sesaat.
Padahal, Allah SWT telah memberikan jalan yang sederhana namun begitu dalam untuk menemukan ketenteraman hati.
Allah SWT berfirman dalam QS. Ar-Ra’d ayat 28:
“Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.”
Ayat ini mengingatkan bahwa ketenangan sejati tidak semata-mata ditentukan oleh keadaan di luar diri kita. Ketenangan yang sesungguhnya berawal dari hati yang terhubung dengan Allah SWT.
Lalu, bagaimana agar hati benar-benar menemukan sakinah?
Salah satu jalannya adalah ketaatan.
Dan salah satu pintu utama ketaatan itu adalah shalat.
Shalat, Tiang Ketenangan
Shalat bukan sekadar kewajiban yang harus ditunaikan. Shalat adalah ruang perjumpaan seorang hamba dengan Rabb-nya.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 45:
“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu amat berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.”
Ketika shalat dilakukan dengan penuh kesadaran dan kekhusyukan, seorang hamba sedang meletakkan beban kehidupannya di hadapan Allah.
Dalam sujud, kita merendahkan diri di hadapan Zat Yang Maha Kuasa.
Kekhawatiran yang selama ini memenuhi pikiran kita serahkan kepada-Nya. Persoalan yang terasa berat kita adukan kepada-Nya.
Harapan yang mungkin tidak mampu kita sampaikan kepada siapa pun, kita panjatkan dalam doa.
Karena itu, shalat seharusnya bukan sekadar aktivitas rutin yang dilakukan untuk menggugurkan kewajiban.
Ia harus menjadi kebutuhan jiwa.
Ketepatan waktu, kekhusyukan, serta upaya memahami bacaan shalat menjadi bagian penting agar ibadah tersebut tidak berhenti pada gerakan fisik, tetapi benar-benar menghadirkan hubungan batin antara seorang hamba dengan Allah SWT.
Ketaatan Membawa Hati Lebih Dekat
Mengingat Allah tidak dapat dipisahkan dari ketaatan kepada-Nya.
Seorang manusia tentu tidak luput dari dosa dan kesalahan. Namun, ketika seseorang terus berusaha memperbaiki diri, meninggalkan kemaksiatan, menjalankan perintah Allah, dan memperbanyak amal kebaikan, ia sedang membangun kembali kedekatan dengan Tuhannya.
Ketaatan bukan berarti hidup tanpa masalah.
Orang yang taat tetap dapat diuji.
Ia tetap dapat kehilangan, kecewa, sakit hati, mengalami kegagalan, bahkan menghadapi masa-masa yang sangat berat.
Namun, ketaatan memberikan sesuatu yang sangat berharga: cara pandang dalam menghadapi ujian.
Ujian tidak selalu dipandang sebagai akhir dari segalanya. Ada keyakinan bahwa di balik sesuatu yang tidak kita sukai, Allah dapat menyimpan hikmah yang belum mampu kita pahami.
Di sinilah pentingnya husnuzan kepada Allah.
Ketika hati bersandar kepada Allah, seseorang belajar menerima takdir dengan tetap berikhtiar. Ia berusaha ketika memiliki kesempatan, bersabar ketika diuji, bersyukur ketika diberi nikmat, dan bertawakal setelah melakukan yang terbaik.
Sakinah Tidak Datang Seketika
Ketenangan hati bukan hadiah yang selalu datang secara instan.
Sakinah tumbuh melalui proses.
Ia tumbuh dari shalat yang terus dijaga, dzikir yang dilakukan dengan kesadaran, doa yang tidak pernah putus, serta ketaatan yang dijalankan secara istiqamah.
Sedikit demi sedikit, hati belajar menjadi lebih kuat.
Ketika musibah datang, ia tidak mudah runtuh.
Ketika mendapatkan nikmat, ia tidak mudah sombong.
Ketika menghadapi masa depan yang belum pasti, ia tidak kehilangan harapan.
Inilah salah satu bentuk sakinah: ketika hati tetap memiliki ketenangan meskipun kehidupan tidak selalu berjalan sesuai keinginan.
Sebab ketenangan bukan berarti tidak memiliki masalah.
Ketenangan adalah ketika kita memiliki tempat untuk bersandar di tengah masalah.
Dan bagi seorang mukmin, tempat bersandar terbaik adalah Allah SWT
Ketika Hati Mulai Gelisah, Mungkin Saatnya Kembali.
Jika hari ini hati kita masih sering gelisah, mungkin bukan berarti hidup kita kekurangan sesuatu.
Bisa jadi, hati kita sedang membutuhkan sesuatu yang lebih mendasar: kembali mendekat kepada Allah.
Mari perbaiki shalat.
Mari perbanyak dzikir.
Mari perbanyak doa.
Mari belajar menerima takdir dengan husnuzan.
Dan mari menjalani kehidupan dengan ketaatan, meskipun sedikit demi sedikit.
Allah SWT berfirman dalam QS. At-Talaq ayat 2-3:
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.”
Pada akhirnya, manusia mungkin tidak mampu mengendalikan seluruh keadaan yang terjadi dalam hidupnya.
Tetapi manusia dapat memilih kepada siapa hatinya bersandar.
Harta bisa berkurang. Jabatan bisa berakhir. Kesuksesan bisa berubah. Manusia bisa pergi. Namun Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang kembali kepada-Nya.
Ketakwaan dan ketaatan adalah jalan.
Istiqamah adalah perjalanan.
Dan sakinah adalah ketenangan yang tumbuh ketika hati belajar berserah kepada Allah SWT.
Jika dunia membuatmu lelah, jangan hanya mencari tempat untuk beristirahat. Carilah tempat untuk bersujud.
Sebab bisa jadi, hati yang selama ini mencari ketenangan ke mana-mana sebenarnya hanya sedang mencari jalan pulang kepada Allah.




Tinggalkan Balasan