Menurutnya, sistem dapat memperhatikan berbagai bentuk interaksi, mulai dari konten yang ditonton, durasi menonton, tanda suka, komentar, konten yang dibagikan hingga akun yang diikuti.
Anggota tim mahasiswa, Agysta, menjelaskan bahwa konten yang mengundang perdebatan juga dapat memperoleh interaksi tinggi sehingga berpotensi lebih sering direkomendasikan kepada pengguna.
“Isu yang kontroversial biasanya mendapat banyak tanggapan. Sistem melihat itu sebagai tanda penting, lalu menyebarkannya lebih luas lagi,” katanya.
Kondisi tersebut, lanjut Agysta, dapat membuat pengguna merasa seolah-olah suatu isu sedang dibicarakan oleh semua orang. Padahal, konten yang tampil di beranda setiap orang dapat berbeda karena dipengaruhi pola aktivitas masing-masing.
Para mahasiswa kemudian memperkenalkan konsep filter bubble atau gelembung informasi dan echo chamber atau ruang bergema.
Pemateri lainnya, Nengsi, menjelaskan bahwa kedua kondisi tersebut dapat membuat seseorang lebih sering terpapar informasi atau pandangan yang serupa dengan apa yang sebelumnya mereka konsumsi.
“Gelembung informasi membuat kita seakan hidup di dunia yang hanya berisi pendapat yang sama dengan kita. Ruang bergema ibarat berteriak di gua, yang kembali hanya suara kita sendiri,” ujar Nengsi.
Untuk memberikan gambaran secara langsung, siswa diminta membandingkan tampilan beranda media sosial masing-masing. Hasilnya, tampilan yang muncul berbeda meskipun mereka menggunakan aplikasi yang sama.
Mahasiswa menjelaskan bahwa perbedaan tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana sistem rekomendasi bekerja berdasarkan aktivitas dan kebiasaan pengguna.
Selain menjelaskan algoritma, para mahasiswa memberikan sejumlah langkah yang dapat dilakukan siswa ketika menerima informasi politik di media sosial.
Siswa diajak untuk tidak langsung membagikan informasi, memeriksa kebenarannya melalui sumber terpercaya, serta membandingkan informasi dari beberapa sumber sebelum mengambil kesimpulan.
Mereka juga diingatkan agar tidak menilai calon pemimpin hanya berdasarkan konten yang muncul di media sosial, tetapi turut melihat rekam jejak, program dan rencana kerja yang disampaikan.
“Media sosial memang dirancang untuk menarik perhatian dan memancing perasaan. Tapi keputusan penting ditentukan di tempat pemungutan suara, bukan di kolom komentar,” kata Nengsi.
Editor: Ixan



Tinggalkan Balasan