Abdul Rahim mengungkapkan, tantangan terbesar peternak telur di Sultra adalah biaya pakan yang mencekik.

Guna mengatasi hal ini, pemerintah mengambil langkah strategis dengan mengusulkan alokasi Jagung SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) ke BULOG.

Langkah ini juga sekaligus menjadi jawaban atas isu “larinya” stok jagung lokal Sultra ke luar daerah. “Bapak Gubernur ingin potensi jagung kita dinikmati oleh peternak kita sendiri. Kabarnya jagung dari BULOG Sultra malah dijual ke luar (Sulsel), padahal peternak lokal kita sangat butuh pakan murah. Lewat SPHP ini, kita kunci stok untuk peternak Sultra,” tegasnya.

Selain bantuan fisik dan pakan, Pemprov Sultra tengah menyambut program hilirisasi ternak ayam terintegrasi dari pusat.

Program ini diharapkan dapat membangun ekosistem peternakan yang mandiri, mulai dari penyediaan bibit (DOC), ketersediaan pakan harian, hingga penjaminan pasar pasca-panen.

“Kita ingin peternakan menjadi profesi yang menjanjikan, bukan sekadar sampingan. Jika ekosistem pakan murah ini jalan dan bantuan kandang tersalurkan, kita optimis ketergantungan telur dari luar daerah bisa kita pangkas drastis,” tambah Abdul Rahim.

Akselerasi bantuan ini juga bertujuan untuk menjaga stabilitas harga menjelang hari besar keagamaan.

Gubernur ASR melalui Distanak Sultra ingin memastikan bahwa lonjakan permintaan telur dan daging ayam nantinya tidak dibarengi dengan lonjakan harga yang membebani masyarakat.

“Pangan adalah hal sensitif. Sesuai instruksi Gubernur, kita harus swasembada. Dengan mendukung peternak rakyat melalui bantuan sarana dan pakan murah, kita sedang membangun benteng ketahanan pangan Sultra yang mandiri dan berdaulat,” pungkasnya. (red)

24 / 100 Skor SEO