Kolaka – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) terus menggenjot hilirisasi industri yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat. Kali ini, Pemprov Sultra tengah mengoptimalkan pemanfaatan slag nikel—produk samping (by-product) pengolahan mineral—sebagai material utama pembangunan rumah warga.
Langkah strategis ini ditandai dengan kunjungan lapangan langsung ke workshop pengolahan slag milik PT ANTAM di Kabupaten Kolaka pada pekan lalu. Melalui kolaborasi ini, limbah industri tersebut diproyeksikan bakal disulap menjadi bahan bangunan yang bernilai guna tinggi.
Kunjungan ini dipimpin langsung oleh Kepala Dinas Perindag Sultra, Dr. Ir. Sukanto Toding. Dalam peninjauan tersebut, ia didampingi oleh pengurus DPD HIPMI SULTRA Suharto serta DPC HIPMI Kolaka Yunus Wahid, dan disambut oleh CSR Manager PT ANTAM, Muhammad Rusdan.
Di lokasi workshop, rombongan Disperindag Sultra menyaksikan langsung bagaimana slag nikel diolah menjadi berbagai produk konstruksi kokoh. Selama ini, PT ANTAM telah memanfaatkan material tersebut sebagai struktur dasar jalan (base yard), ruang terbuka hijau, tembok, hingga produk siap pakai seperti paving block dan batu bata.
CSR Manager PT ANTAM, Muhammad Rusdan, menjelaskan bahwa penggunaan slag nikel di internal perusahaan sudah sangat intensif. Mulai dari pembangunan gedung, jalan operasional, hingga infrastruktur pemecah ombak telah membuktikan kekuatan material ini.
Pihak ANTAM pun menyambut baik inisiatif pemprov untuk memperluas skala pemanfaatan produk sampingan ini demi kepentingan publik yang lebih luas.
Rencana besar ke depan, Disperindag Sultra akan menggandeng Industri Kecil dan Menengah (IKM) serta UMKM pertukangan lokal untuk mengolah slag nikel secara masif. Hasil olahan dari para perajin lokal ini nantinya akan dialokasikan ke sejumlah program sosial kemasyarakatan.
Berikut adalah target sasaran pemanfaatan olahan slag nikel di Sulawesi Tenggara:

Pembangunan Rumah: Menyasar masyarakat berpendapatan rendah.
Rehabilitasi Hunian: Program perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu).
Fasilitas Publik: Pembangunan Fasilitas Umum (Fasum) dan Fasilitas Sosial (Fasos).
“Optimalisasi pemanfaatan slag industri merupakan salah satu bentuk hilirisasi yang dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat,” tegas Sukanto Toding.
Tak berhenti di PT ANTAM, tim Disperindag Sultra juga melanjutkan gerilya komitmennya ke wilayah Wolo, Kabupaten Kolaka.
Di sana, mereka menemui jajaran manajemen PT Ceria Nugraha Indotama (CNI) dan PT Ceria Metalindo Prima (CMP), termasuk Direktur Operasional PT CNI Yusran Rantesalu, GM Site Operation Wahyu Maradona, dan Presiden Direktur PT CMP Aldo Namora.
Dalam pertemuan tersebut, pihak PT Ceria menegaskan komitmen penuh mereka untuk siap mengalokasikan pasokan slag nikel demi mendukung suksesnya program hilirisasi sosial yang diinisiasi oleh Pemprov Sultra.
(pdk)




Tinggalkan Balasan