SURABAYA, perdetiknews.com — Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) serta kebijakan merumahkan karyawan dalam skala besar dilaporkan tengah mengancam sektor industri manufaktur di Indonesia. Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) mengungkapkan sedikitnya terdapat 6.500 buruh yang berpotensi terdampak langsung di dua korporasi besar yang berlokasi di wilayah Jawa Timur dan Jawa Barat.
Krisis ketenagakerjaan ini terdeteksi menyusul temuan investigasi lapangan pada PT Pakerin di Mojokerto serta PT Feng Tay di Kabupaten Bandung.
Presiden KSPI, Said Iqbal, menjelaskan bahwa indikasi lumpuhnya operasional di sejumlah lini pabrik menjadi sinyal kuat bahwa sektor industri nasional sedang tertekan hebat. Pelemahan daya beli pasar global yang memicu penurunan volume pesanan, lonjakan biaya operasional, volatilitas nilai tukar dolar, hingga imbas meluasnya ketegangan geopolitik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel menjadi faktor penekan utama.
“Perusahaan Indonesia yang berorientasi ekspor seperti sepatu, garmen, karena permintaan barang di luar negeri menurun akibat perang, maka orientasi perusahaan ini pun produksinya menurun,” ungkap Said Iqbal yang juga menjabat sebagai Penasehat Khusus Presiden RI Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh saat menggelar konferensi pers gabungan bersama Partai Buruh, Minggu (21/6).
Ancaman serius pertama membayangi sekitar 2.500 pekerja di PT Pakerin, Mojokerto. Perusahaan manufaktur bubur kayu (pulp) untuk bahan baku kertas ini dilaporkan telah menghentikan hingga 80 persen aktivitas produksinya.
Kondisi memprihatinkan ini dipicu oleh masalah likuiditas serius, di mana modal kerja perusahaan senilai Rp800 miliar hingga Rp1 triliun yang tersimpan di Bank Prima Jawa Timur saat ini berstatus dalam pengawasan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menyusul kebijakan likuiditas yang dijatuhkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Akibat dana yang membeku tersebut, roda pabrik mandek dan mayoritas buruh hampir dua tahun dirumahkan, menyisakan hanya sekitar 500 orang yang masih aktif bekerja. Korporasi diperkirakan membutuhkan suntikan dana segar senilai Rp250 miliar agar bisa kembali beroperasi normal. Jika opsi PHK terpaksa diambil dengan skema pesangon 1,75 kali ketentuan regulasi, proses pembayaran hak buruh tersebut tetap belum bisa dieksekusi karena kendala pembekuan aset di LPS.
Sementara itu di Jawa Barat, bayang-bayang pengurangan pegawai juga menerpa PT Feng Tay di Kabupaten Bandung. Raksasa manufaktur sepatu mitra merek olahraga global Nike tersebut dilaporkan telah merumahkan sedikitnya 4.000 karyawan. Berdasarkan data awal, kebijakan ini diambil akibat selesainya kontrak pemesanan dari prinsipal asing serta adanya keterlambatan rantai pasok bahan baku menyusul penyesuaian vendor imbas pecahnya konflik luar negeri.

Guna memverifikasi akurasi data dan mencari solusi terbaik, Said Iqbal bersama perwakilan Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) dijadwalkan turun langsung ke lokasi pabrik PT Feng Tay pada Senin (22/6).
Selain industri tekstil dan alas kaki, radar pengawasan serikat buruh kini juga menyoroti dua perusahaan komponen otomotif asal Jepang berinisial J dan S di kawasan Pasuruan dan Mojokerto. Ribuan pekerja di kedua pabrik tersebut ikut berisiko terdampak karena adanya wacana pemindahan basis produksi (relokasi) ke Vietnam, seiring dengan terjadinya pergeseran tren industri global menuju ekosistem kendaraan listrik (electric vehicle).
Kendati demikian, angin segar sedikit berembus dari Jakarta utara terkait polemik PT Amos di Cilincing. Setelah nasib karyawannya terkatung-katung tanpa kejelasan upah dan jaminan perlindungan BPJS selama empat bulan, kasus perusahaan garmen asal Korea Selatan tersebut kini mulai menemukan titik terang usai dilakukannya koordinasi taktis lintas sektor bersama Kemenaker.
Seluruh temuan krusial ini ditegaskan akan segera dilaporkan langsung ke meja kerja Presiden Prabowo Subianto guna merumuskan formulasi mitigasi yang cepat dan terukur dari pemerintah bersama serikat pekerja demi menahan eskalasi PHK agar tidak meluas secara masif. (red)




Tinggalkan Balasan