JAKARTA, perdetiknews.com – Tekanan berat yang melanda mata uang nasional kian mengkhawatirkan pada pertengahan perdagangan hari ini.

Merujuk data pasar spot pada perdagangan Senin siang (8/6/2026), nilai tukar rupiah terpantau kian terperosok hingga menyentuh level Rp18.201 per dolar Amerika Serikat (AS).

Posisi ini menunjukkan pelemahan tajam sebesar 165 poin atau setara 0,91 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.

Mata uang Garuda sebenarnya sudah menunjukkan sinyal lesu sejak pembukaan pasar, di mana posisinya sempat tertahan di angka Rp18.170 per dolar AS atau terkoreksi 134 poin (0,75 persen), sebelum akhirnya tergelincir makin dalam pada pukul 13.48 WIB.

Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjandra, menegaskan bahwa kejatuhan rupiah ke level Rp18.201 ini merupakan kondisi krusial yang tidak bisa dianggap normal lagi oleh otoritas moneter maupun pemerintah.

Ia memperingatkan bahwa jika tren depresiasi ini terus bergulir dalam jangka panjang, efek domininya dipastikan langsung memukul sektor riil masyarakat.

“Pelemahan rupiah ke dalam negeri berimbas ke kenaikan harga konsumsi dan produksi atau inflasi, penurunan daya beli, beban utang dolar AS meningkat, hingga potensi pemutusan hubungan kerja (PHK). Jadi itu yang harus benar-benar dijaga,” papar Ariston saat dihubungi, Senin (8/6).

Menurut analisisnya, keambrukan kurs rupiah saat ini dipicu oleh bauran agresif antara faktor eksternal dan internal.

Dari sisi global, keperkasaan indeks dolar AS yang menekan mata uang negara berkembang berpadu negatif dengan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang melambungkan harga minyak mentah dunia.

Kondisi eksternal yang sangat kuat ini turut menyeret pelemahan berbagai mata uang lain di dunia.

Namun, faktor domestik dinilai ikut memperbesar tekanan terhadap pergerakan rupiah.

Sentimen internal tersebut dimulai dari derasnya modal investor asing yang keluar dari pasar saham Indonesia (IHSG) imbas penyesuaian indeks global seperti Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Selain itu, para pelaku pasar dan investor juga tengah mencermati dengan sangat sensitif terkait ketahanan fiskal negara dalam jangka panjang.

Program-program strategis baru pemerintah yang membutuhkan dukungan pembiayaan belanja jumbo—seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih—menjadi sorotan utama bagi investor dalam menilai arah kebijakan ekonomi ke depan.

Sentimen ini ditambah lagi dengan belum adanya dampak signifikan dari pembentukan Danantara serta kebijakan ekspor satu pintu.

Ariston memandang, untuk meredam kejatuhan rupiah, Bank Indonesia (BI) dituntut untuk tetap siaga melakukan intervensi di pasar valas dalam jangka pendek.

Namun, menjaga stabilitas rupiah tidak bisa hanya bertumpu pada langkah moneter.

Pemerintah wajib memperbaiki persepsi pasar dengan menerapkan tata kelola yang baik dan transparan pada program-programnya, serta menjaga pasokan dolar di dalam negeri lewat peningkatan ekspor dan sektor pariwisata.

Sebab, jika pergerakan rupiah terus melesat menjauhi proyeksi, risiko fiskal yang lebih besar harus siap dihadapi oleh pemerintah.

“Ya kalau nilai tukar rupiah tidak sesuai dengan asumsi yang digunakan dalam APBN, biasanya perlu dilakukan penyesuaian postur APBN lagi,” pungkas Ariston. (PDN)

10 / 100 Skor SEO