PASARWAJO – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara terus memperkuat sektor industri kecil dan menengah (IKM) sebagai motor penggerak ekonomi daerah.
Sejalan dengan visi Gubernur Sulawesi Tenggara Mayjen TNI (Purn.) Andi Sumangerukka, S.E., M.M. untuk membangun ekonomi yang inklusif, berdaya saing, dan berbasis potensi lokal, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Sultra menggelar Pelatihan Peningkatan Kapasitas Pengrajin Tenun Sentra Wabula di Desa Wabula, Kecamatan Pasarwajo, Kabupaten Buton.
Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, 3–5 Agustus 2026, merupakan kolaborasi Disperindag Provinsi Sultra, Disperindag Kabupaten Buton, dan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Buton.
Sebanyak 50 pengrajin tenun aktif mengikuti pelatihan yang dirancang untuk meningkatkan kompetensi, memperkuat hilirisasi produk, serta mendorong lahirnya produk tenun bernilai tambah tinggi yang mampu bersaing di pasar nasional hingga internasional.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sulawesi Tenggara, Dr. Ir. Sukanto Toding, MSP., MA., menegaskan bahwa pengembangan Tenun Wabula bukan sekadar upaya melestarikan warisan budaya, melainkan strategi membangun kekuatan ekonomi masyarakat melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia, inovasi, dan penguatan industri kreatif.
“Pelatihan ini merupakan implementasi nyata dari arah pembangunan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara di bawah kepemimpinan Bapak Gubernur Mayjen TNI (Purn.) Andi Sumangerukka. Potensi lokal harus memiliki nilai tambah sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dari benang menjadi kain, dari kain menjadi produk fesyen bernilai ekonomi tinggi,” ujar Sukanto Toding.
Menurutnya, pelatihan difokuskan pada peningkatan kapasitas pengrajin melalui materi desain dan inovasi produk, teknik produksi dan jaminan mutu, serta branding, packaging, dan digital marketing. Dengan pendekatan tersebut, para pengrajin diharapkan mampu menghasilkan produk yang lebih kompetitif sekaligus memperluas akses pasar.
“Tujuan utama kegiatan ini adalah membangun kapasitas pengrajin agar mampu menciptakan produk berkualitas, meningkatkan daya saing, sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat. Ketika kualitas meningkat dan pasar semakin luas, kesejahteraan pengrajin pun akan ikut tumbuh,” katanya.

Pelatihan secara resmi dibuka oleh Ketua Dekranasda Kabupaten Buton, Ny. Maimuna Moko, yang menekankan pentingnya menjaga warisan budaya tanpa mengabaikan tuntutan perkembangan pasar.
Ia menyebut Tenun Wabula merupakan identitas budaya Kabupaten Buton yang harus terus dikembangkan melalui inovasi desain, adaptasi teknologi, dan pemasaran digital agar semakin diminati berbagai kalangan.
“Pengrajin harus melek desain, melek digital, dan melek pasar. Kami berharap pelatihan ini mampu meningkatkan ekonomi masyarakat Wabula, menaikkan pendapatan keluarga, sekaligus mendorong regenerasi pengrajin,” ujarnya.
Sebagai bentuk komitmen pemerintah dalam mendukung keberlanjutan produksi, rangkaian kegiatan juga diisi dengan penyerahan bantuan bahan baku berupa benang kepada 50 peserta pelatihan.
Bantuan tersebut diserahkan secara simbolis oleh Ketua Dekranasda Kabupaten Buton bersama tim Disperindag Provinsi Sultra.
Sukanto Toding menegaskan bantuan itu merupakan modal awal bagi para pengrajin untuk segera mengimplementasikan ilmu yang diperoleh selama pelatihan.
“Bantuan ini bukan sekadar benang, tetapi investasi bagi produktivitas pengrajin. Kami optimistis peningkatan produksi akan berdampak langsung terhadap peningkatan pendapatan masyarakat,” ujarnya.
Salah seorang peserta, Wa Ode Sitti, mengaku pelatihan memberikan manfaat besar, baik dari sisi peningkatan keterampilan maupun dukungan bahan baku.
“Biasanya kami terkendala membeli benang. Sekarang kami mendapatkan ilmu baru sekaligus bantuan benang. Dalam waktu dekat kami akan mulai memproduksi tas tenun untuk dipasarkan secara online,” katanya.
Sebagai tindak lanjut, Disperindag Provinsi Sultra akan memberikan pendampingan intensif terhadap proses produksi dan pemasaran, memfasilitasi legalitas usaha melalui Nomor Induk Berusaha (NIB), serta membuka akses promosi melalui berbagai pameran dan jejaring pemasaran.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara menargetkan terbentuknya brand kolektif Tenun Wabula, meningkatnya omzet pengrajin, serta terciptanya lapangan kerja baru, khususnya bagi perempuan dan generasi muda hingga akhir 2026.
Melalui penguatan industri tenun berbasis potensi lokal, Disperindag Sultra optimistis Tenun Wabula tidak hanya menjadi kebanggaan budaya Kabupaten Buton, tetapi juga berkembang menjadi produk unggulan yang mampu mengangkat daya saing industri kreatif Sulawesi Tenggara sekaligus memperkuat fondasi ekonomi kerakyatan yang menjadi bagian dari visi pembangunan Gubernur Sulawesi Tenggara.
Editor: San.


Tinggalkan Balasan