KENDARI – Hobi memelihara ayam Bangkok kini tak lagi identik dengan sabung ayam. Di tangan Didit Hariadi, hobi tersebut berkembang menjadi industri kreatif berbasis peternakan yang mampu menghasilkan nilai ekonomi fantastis.

Melalui King Lie Farm di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, Didit mengembangkan usaha breeding ayam Bangkok berkualitas untuk kebutuhan kontes ketangkasan resmi yang diklaim bebas dari praktik perjudian.

Didirikan pada 2024, King Lie Farm fokus pada pembibitan, penyilangan, hingga pelatihan ayam petarung untuk mengikuti berbagai kontes ketangkasan nasional.

Farm tersebut mengembangkan sejumlah trah unggulan asal Thailand, di antaranya Mangon, Pama, dan Pakhoy Drumband.
Saat ini sekitar ratusam ekor ayam dipelihara di King Lie Farm.

Sebagian besar merupakan ayam impor langsung dari Thailand dengan garis keturunan yang jelas.

Menurut Didit, kualitas ayam ditentukan melalui seleksi ketat, mulai dari trah, struktur tulang, hingga karakter bertarung.

Perawatan juga dilakukan secara intensif melalui pemberian pakan berkualitas, vitamin, jamu khusus, extra fooding, serta latihan fisik seperti sprint, kliter, dan jumping.

Ia mengatakan, perkembangan dunia hobi ayam Bangkok terus mengalami perubahan sehingga peternak tidak boleh terpaku pada satu jenis trah.

“Peternak harus terus berinovasi dan melakukan pembaruan agar kualitas ayam yang dikembangkan mampu bersaing di tingkat nasional,” ujarnya.

Potensi ekonomi dari usaha tersebut dinilai sangat menjanjikan. Harga seekor ayam berkualitas bahkan dapat mencapai Rp120 juta hingga Rp500 juta.

Salah satu ayam andalan King Lie Farm bernama Sardor pernah mendapat tawaran senilai Rp500 juta setelah meraih prestasi dalam kontes ketangkasan nasional di Bali.

Didit menilai pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa hobi dapat berkembang menjadi usaha bernilai tinggi sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

Owner King Lie Farm itu yang juga menjabat sebagai Ketua DPD Forum Advokat dan Pengacara Republik Indonesia (FAPRI) Sulawesi Tenggara itu menegaskan masyarakat perlu membedakan antara kontes ketangkasan resmi dengan sabung ayam ilegal.

“Masyarakat harus dewasa memandang industri ini. Apa yang kami lakukan di King Lie Farm sama sekali berbeda dengan sabung ayam konvensional yang identik dengan judi. Ini adalah ajang adu ketangkasan, olahraga seni, dan silaturahmi antar-penghobi,” kata Didit.

Ia menjelaskan, dalam kontes resmi seluruh taji atau jalu ayam wajib dibungkus menggunakan pelindung khusus sehingga tidak melukai lawan.

Selain itu, penilaian dilakukan oleh dewan juri berdasarkan teknik pukulan, kelincahan, stamina, dan kemampuan bertarung, bukan berdasarkan ayam yang terluka atau mati.

Menurut Didit, kehadiran kontes yang terstruktur dan mengikuti aturan tersebut diharapkan dapat menjadi wadah positif bagi para penghobi sekaligus mengurangi praktik sabung ayam ilegal yang disertai perjudian.

Ia pun berkomitmen terus mengembangkan peternakan ayam Bangkok di Sulawesi Tenggara sebagai bagian dari ekonomi kreatif yang mampu meningkatkan kesejahteraan peternak lokal. (red)

60 / 100 Skor SEO