Destry menjelaskan, di tengah kondisi global yang masih penuh ketidakpastian, perekonomian Indonesia tetap menunjukkan daya tahan kuat. Pertumbuhan ekonomi nasional tercatat berada di kisaran 5 persen, sementara inflasi tetap terjaga pada rentang sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen.
Sejalan dengan itu, sektor ekonomi syariah nasional juga terus menunjukkan pertumbuhan positif. Pada 2025, sektor unggulan Halal Value Chain (HVC) tumbuh 6,21 persen secara tahunan, naik dibanding tahun sebelumnya yang tercatat 4 persen.
“Pertumbuhan itu ditopang sektor pertanian, makanan-minuman halal, pariwisata ramah muslim, dan modest fashion yang terus berkembang,” katanya.
Destry menilai Sultra memiliki keunggulan kompetitif untuk masuk dalam rantai besar industri halal nasional. Julukan Wonua Solo Kumi atau Negeri Anggrek dinilai mencerminkan kekayaan alam dan potensi ekonomi daerah yang besar.
“Sulawesi Tenggara punya tanah yang subur, basis UMKM yang kuat, dan potensi besar pada industri halal serta pariwisata berbasis prinsip syariah. Ini modal penting untuk tumbuh lebih cepat,” ujarnya.
Bank Indonesia, kata Destry, berkomitmen terus mendukung penguatan ekosistem ekonomi syariah melalui pengembangan rantai nilai halal, peningkatan literasi dan inklusi keuangan syariah, hingga penguatan instrumen sosial keuangan syariah seperti zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISWAF).
“Dengan sinergi yang kuat, kami optimistis Sultra bisa menjadi salah satu simpul pertumbuhan ekonomi syariah baru di Indonesia timur,” tutupnya. (red)



Tinggalkan Balasan