Menyikapi situasi ini, Departemen Peternakan bersama Kementerian Pertanian Thailand bergerak cepat dengan menetapkan zona karantina seluas 5 kilometer di sekitar lokasi ditemukannya infeksi. Selain itu, pemerintah juga mengumumkan rencana vaksinasi terhadap 1.222 ekor sapi yang berada di wilayah tersebut.

Hingga berita ini diturunkan, belum ditemukan adanya gejala penyakit atau kematian mendadak pada hewan ternak di wilayah terdampak.

Antraks sendiri merupakan penyakit bakteri langka namun serius yang umumnya ditularkan melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi atau melalui konsumsi daging yang terkontaminasi bakteri. Penyakit ini diketahui tidak menular antar manusia.

Catatan kasus antraks di Thailand menunjukkan bahwa negara ini terakhir kali melaporkan infeksi pada manusia pada tahun 2017 dengan dua kasus tanpa adanya korban jiwa. Sebelumnya, pada tahun 2000, Thailand juga mencatat 15 kasus antraks yang seluruh pasiennya berhasil sembuh.

Kabar kematian akibat antraks di Thailand ini terjadi di tengah meningkatnya laporan kasus serupa di kawasan Asia Tenggara. Negara tetangga, Laos, tercatat memiliki 129 kasus antraks dengan satu kematian pada tahun lalu. Sementara itu, Vietnam juga melaporkan 13 kasus infeksi antraks pada Mei 2023.

Pihak berwenang Thailand saat ini masih melakukan penyelidikan mendalam untuk mengidentifikasi sumber utama infeksi. Langkah-langkah pengawasan di wilayah perbatasan juga akan diperketat guna mencegah potensi penyebaran penyakit lebih lanjut. (red)