Likuiditas transaksi saham juga terpantau meningkat, didominasi oleh investor individu domestik. RNTH saham pada September 2025 sempat mencetak rekor tertinggi sebesar Rp24,02 triliun. Secara ytd per akhir September, RNTH tercatat Rp15,50 triliun, naik dari RNTH tahun 2024 yang sebesar Rp12,85 triliun.
Sektor pasar modal juga mencatat peningkatan jumlah investor dan penghimpunan dana yang pesat:
-
Investor Baru: Sebanyak 643 ribu investor baru tercatat di pasar modal domestik pada September 2025. Secara ytd, jumlah investor meningkat menjadi 18,66 juta, atau naik 25,50%.
-
Penghimpunan Dana: Nilai Penawaran Umum oleh korporasi mencapai Rp186,52 triliun hingga akhir September 2025. Terdapat juga 17 emiten baru dengan fundraising senilai Rp13,15 triliun.
-
AUM dan Reksa Dana: Nilai Asset Under Management (AUM) industri pengelolaan investasi mencapai Rp913,96 triliun, dan Nilai Aktiva Bersih (NAB) Reksa Dana mencapai Rp576,13 triliun, ditopang oleh net subscription investor sebesar Rp45,50 triliun ytd.
OJK mencermati perkembangan global, termasuk dimulainya siklus penurunan Fed Fund Rate (FFR) oleh The Fed sebesar 25 bps pada September 2025. Sementara di dalam negeri, kinerja perekonomian domestik masih terjaga dengan PMI Manufaktur di zona ekspansi.
Meskipun pasar saham mencetak rekor, investor asing terpantau membukukan net sell sebesar Rp3,80 triliun di pasar saham domestik selama September 2025. Di pasar obligasi SBN, investor nonresiden juga mencatat net sell sebesar Rp45,76 triliun.
Dalam rangka penegakan hukum, OJK sepanjang tahun 2025 (hingga akhir September) telah mengenakan Sanksi Administratif berupa denda senilai total Rp25.457.800.000 kepada 50 pihak terkait kasus di Pasar Modal, serta denda atas keterlambatan pelaporan sebesar Rp25.855.100.000,00. OJK juga mencatat perkembangan Bursa Karbon dengan total volume transaksi mencapai 1.606.056 tCO2e. (red)



Tinggalkan Balasan