Zulhas mengungkapkan, saat ini masih ditemukan sekolah-sekolah elite yang secara ekonomi tidak membutuhkan, tetapi justru mendapatkan alokasi MBG. Sebaliknya, banyak sekolah di wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) yang sangat membutuhkan namun belum tersentuh program tersebut.

“Dalam rangka perbaikan, kita perlu melakukan refocusing agar penerima manfaat ini tepat. Sekolah-sekolah yang elite, ya, memang enggak memerlukan makan bergizi,” kata Zulhas usai rapat koordinasi di Kemenko Pangan, Jakarta Pusat, Kamis (11/6/2026).

Pemerintah berkomitmen mengejar ketertinggalan distribusi di daerah-daerah terpencil. “Yang memerlukan belum dapat, tapi yang enggak perlu dapat. Nah, ini akan ditata lebih lanjut karena kita akan fokus kepada yang terlambat ini, sangat terlambat di 3T,” lanjutnya.

Selain persoalan akurasi data penerima, Menko Pangan juga memberikan catatan keras terkait manajemen operasional di lapangan. Zulhas menginstruksikan peningkatan kualitas dan higienitas dapur produksi di setiap satuan pelayanan untuk mencegah terjadinya fatalitas.

Pemerintah menegaskan tidak akan menoleransi segala bentuk kelalaian yang berdampak pada kesehatan anak-anak penerima manfaat.

“Kita tidak ada zero tolerance terhadap keamanan pangan ini. Walaupun satu (kasus), enggak boleh lagi ada yang keracunan. Oleh karena itu, kita akan fokus ke sini dalam bulan ini. Sebulan nanti kita lihat lagi perkembangannya,” tegas Zulhas.

64 / 100 Skor SEO