Di bawah tenda biru putih, para kader PKK menyiapkan kreasi olahan hasil laut. Udang berwarna keemasan tersusun di atas wadah berkaki.

Hidangan berbalut daun berdampingan dengan hiasan buah. Pada meja lainnya, peserta merapikan makanan di atas piring.

Di tengah suasana tersebut, ASR berbicara tentang sesuatu yang sangat dekat dengan kesehariannya: ikan di meja makan.

“Saya kalau di rumah itu kalau tidak ada ikan, tidak makan,” katanya.

Sang istri, Ketua Tim Penggerak PKK Sultra Arinta Andi Sumangerukka, hadir dalam kegiatan itu. ASR sempat menyebut keberadaannya sebelum meneruskan cerita tentang kebiasaan makan di rumah.

Ia mengaku jarang menyantap daging. Ikan tetap menjadi pilihannya. Bahkan, ketika bercerita tentang sesekali makan daging pada hari Lebaran, kata “ikan” lebih dahulu terucap sebelum ia membetulkannya sendiri.

Kegemaran itulah yang membuat ASR tertarik ketika menerima laporan mengenai rencana kegiatan Gemarikan. Dalam wawancara, ia kembali menjelaskan alasan kedatangannya dengan kalimat sederhana.

“Satu, karena ini adalah acara makan ikan. Saya pemakan ikan,” ujarnya.

“Karena saya gemar, saya ingin mengajak masyarakat untuk sama-sama gemar memakan ikan.”

Cerita kemudian bergerak ke masa ketika ia meniti kehidupan sebagai tentara. ASR mengenang cita-citanya menjadi jenderal. Setelah pangkat itu diraih, ia ingin menjadi panglima. Seusai pensiun, seragam militernya telah berganti, pengabdiannya berlanjut.

Pada 20 Februari 2025, ASR memasuki babak baru sebagai Gubernur Sulawesi Tenggara, membawa amanah masyarakat untuk memimpin daerah.

Ia menyambungkan kisah tersebut dengan seloroh kepada para orang tua, jika menginginkan anak mengikuti jejak yang diceritakannya, biasakan mereka makan ikan. Hadirin kembali bertepuk tangan.

Di sela sambutan, ASR juga berkelakar bahwa kegemarannya makan ikan menyertainya menjalani jadwal kegiatan yang padat. Dari cerita perjalanan hingga urusan menu di rumah, ia berulang kali kembali kepada makanan kesukaannya itu.

Namun, ketika mulai berbicara tentang laut, ASR membawa perhatian kepada kehidupan masyarakat yang bergantung padanya.

“Masa depan kita, Sulawesi Tenggara itu ada di situ, di laut,” katanya.

Menurut ASR, sekitar 70 persen wilayah Sultra merupakan lautan. Potensi tersebut menjadi alasan ia menempatkan ekonomi biru atau blue economy sebagai salah satu dari empat pilar dalam visi misinya.

Ia mengajak masyarakat menjaga perairan dan tidak membuang sampah ke laut. Ajakan makan ikan, dalam penjelasannya, berjalan bersama penghargaan terhadap tempat ikan itu berasal.

“Mari kita cintai laut kita,” ujarnya.

Dalam wawancara seusai sambutan, ASR menguraikan harapannya, laut yang terjaga, hasil tangkapan yang baik, serta manfaat yang sampai kepada nelayan.

“Kalau kita menghargai itu, maka kita bersihkan laut,” katanya.

Ia berharap kesegaran ikan dapat dipertahankan sehingga memiliki nilai jual yang baik. Ketika membicarakan harga, ASR menyebut penghasilan nelayan sebagai tujuan yang ingin dicapai.

“Kalau harganya tinggi, maka nelayan akan mendapatkan manfaatnya.”

ASR turut mengajak masyarakat yang mulai meninggalkan ikan untuk kembali menyantapnya. Ia menyebut ajakan itu sebagai back to basic, kembali kepada kebiasaan makan yang telah akrab dengan masyarakat.

Di Soropia, ragam pilihan mengolah ikan diperlihatkan oleh 10 TP PKK kabupaten/kota.

Mereka mengikuti Lomba Masak Serba Ikan dengan kategori menu keluarga berbahan dasar udang dan tuna, menu kudapan, serta snack untuk balita.

Arinta berkeliling meninjau hidangan bersama rombongan. Di sekitar arena, pelaku usaha menata teri krispi, abon, amplang, dan aneka produk olahan perikanan.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sultra, Hikmawaty Amir, mengatakan peserta peringkat pertama akan mewakili Sultra pada perlombaan tingkat nasional di Jakarta.

Menjelang pembukaan resmi, ASR menyinggung hadiah bagi peserta. Setelah menyebut hadiah yang telah disiapkan para ibu, ia menyampaikan keinginannya untuk menambahkan hadiah tersebut.

“Saya akan tambahkan hadiahnya,” katanya.

Ia mencontohkan hadiah Rp1 juta yang ditambah Rp1,5 juta sehingga menjadi Rp2,5 juta.

ASR kemudian mengucapkan bismillah dan membuka kegiatan Gemarikan tingkat Provinsi Sulawesi Tenggara tahun 2026.

Sebelum menutup sambutan, ia membacakan pantun. Hadirin menyahut “cakep” di sela setiap barisnya.

“Pergi melaut di pagi hari. Perahunya melintas teluk kota. Mari makan ikan setiap hari. Agar sehat, kuat generasi kita.”

Perjalanan menuju Kolaka Timur dan Kolaka masih menantinya. Di Soropia, ASR meninggalkan cerita tentang menu kesukaan di rumah, seloroh tentang cita-cita, dan ajakan menjaga laut tempat para nelayan mencari penghidupan.

 

Penulis: Ixan

 

16 / 100 Skor SEO