KONAWE SELATAN – Polemik dokumen Rekapitulasi Rencana Kegiatan Pembangunan Infrastruktur Dana Pinjaman Daerah Tahun Anggaran 2027 di Kabupaten Konawe Selatan (Konsel) terus bergulir.
Setelah sebelumnya warga Kolono Raya mempertanyakan tidak tercantumnya wilayah mereka dalam daftar proyek, kini masyarakat Kecamatan Baito ikut menyuarakan kekecewaan.
Di media sosial, warga mengunggah kondisi sejumlah ruas jalan di Kecamatan Baito yang tampak berlumpur, dipenuhi genangan air, dan sulit dilalui kendaraan, terutama saat musim hujan.
Unggahan itu muncul bersamaan dengan beredarnya dokumen rencana proyek infrastruktur senilai Rp200 miliar yang tidak mencantumkan nama Kecamatan Baito sebagai lokasi pekerjaan pengaspalan jalan.
Salah satu warga bahkan menulis sindiran.
“Alhamdulillah Kecamatan Baito tidak terdaftar dalam rincian anggaran pinjaman daerah 2027, khususnya pengaspalan ruas jalan Amasara, Matabubu, Alangga. Apa salah tulis? Konsel setara.”
Unggahan tersebut langsung mendapat respons luas dari masyarakat.
Foto-foto yang diunggah warga memperlihatkan kondisi jalan yang berlumpur, berlubang, hingga nyaris tidak bisa dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat.

Pada beberapa titik terlihat warga harus berhenti sebelum melintasi jalan yang licin. Bahkan, genangan lumpur menutupi badan jalan hingga menyulitkan aktivitas masyarakat.
Kondisi itu memicu pertanyaan warga mengenai prioritas pembangunan infrastruktur di Kabupaten Konawe Selatan.
Kolom komentar dipenuhi berbagai tanggapan. Ada yang berharap pemerintah segera memberikan perhatian terhadap akses jalan di Kecamatan Baito.
“Saya saja di luar Kecamatan Baito jujur prihatin dengan jalan di Baito, khususnya Matabubu. Jalannya memang rusak, Bupati Konawe Selatan wajib memperbaikinya,” tulis seorang pengguna Facebook.
Ada pula komentar singkat yang mempertanyakan kondisi wilayah lain.
“Apa kabar Laonti?” tulis salah seorang netizen.
Sementara komentar bernada satire juga bermunculan.
“Rajin-rajin ke rumah jabatan datang main zonk,” tulis akun lain.
Komentar berbeda datang dari warga yang meminta masyarakat tetap bersabar.
“Sabarmi periode berikutnya pi,” tulis seorang pengguna media sosial.
Sebelumnya, dokumen rencana pembangunan infrastruktur 2027 menjadi viral setelah warga Kolono Raya mempertanyakan tidak adanya sejumlah kecamatan dalam daftar kegiatan.
Meski demikian, sebagian masyarakat mengingatkan agar publik tidak terburu-buru mengambil kesimpulan karena dokumen tersebut diduga masih berupa rencana dan berpotensi berubah sesuai pembahasan anggaran.
Hingga berita ini diterbitkan, Pemerintah Kabupaten Konawe Selatan maupun Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) belum memberikan keterangan resmi mengenai status dokumen yang beredar, apakah merupakan daftar final atau masih berupa rancangan. (red)


Tinggalkan Balasan