Jakarta – Anggota Komisi VIII DPR RI Hetifah Sjaifudian meminta perlindungan dan layanan kesehatan bagi warga di pengungsian pascagempa Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), dievaluasi secara menyeluruh. Desakan itu disampaikan setelah data BNPB mencatat 94 warga meninggal dunia selama berada di pengungsian.

Berdasarkan hasil verifikasi dan validasi BNPB bersama Kementerian Kesehatan di tujuh kabupaten terdampak, sebagian besar korban merupakan lanjut usia yang memiliki penyakit kronis, seperti stroke dan diabetes melitus. Meski demikian, Hetifah menilai angka tersebut tetap harus menjadi perhatian serius.

Gempa bermagnitudo 7,7 yang melanda Flores pada 15 Agustus 2026 sebelumnya tercatat menyebabkan 48 orang meninggal akibat dampak langsung gempa. Sementara itu, 94 warga lainnya meninggal ketika berada dalam masa pengungsian.

“Walaupun hasil verifikasi menunjukkan bahwa kematian tersebut bukan karena tertimpa reruntuhan atau trauma fisik langsung akibat gempa, angka 94 jiwa tetap sangat besar dan tidak boleh kita anggap sebagai hal biasa,” kata Hetifah dalam rilis yang diterima Parlementaria di Jakarta, Kamis (17/9/2026).

Politikus Fraksi Partai Golkar itu menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban. Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya sistem pengungsian yang dapat mengidentifikasi dan memberikan perlindungan khusus bagi kelompok rentan sejak awal masa tanggap darurat.