Kementan juga akan turun tangan langsung untuk memastikan kerugian masyarakat benar-benar tertangani.

“Bentuk pertanggungjawabannya akan ada kompensasi untuk petani oleh perusahaan yang bersangkutan dan tim dari Kementerian Pertanian juga akan segera koordinasi ke wilayah daerah tersebut untuk memastikan bahwa kerugian dari masyarakat itu tertangani,” jelasnya.

Menanggapi kekhawatiran anggota DPR Slamet yang khawatir masalah ini berlarut-larut, Sudaryono menekankan pentingnya kecepatan.

“Ya harus segera dong [ganti rugi] karena orang udah mau panen nih kan, orang udah berharap-harap dapat duit gitu tiba-tiba gagal kan. Tentu saja kita berharap sesegera mungkin,” tambahnya.

Insiden kebocoran ini terjadi pada 23 Agustus 2025 di Desa Lioka, Towuti. Pipa tersebut berfungsi mengalirkan minyak dari pelabuhan Mangkasa ke pabrik Vale di Sorowako. Kebocoran diduga disebabkan oleh pergerakan tanah.

Meskipun PT Vale mengklaim operasional mereka tidak terganggu, Presiden Direktur Vale, Bernardus Irmanto, mengakui adanya potensi dampak keuangan.

Perusahaan juga telah membentuk tim tanggap darurat dan melakukan upaya pemulihan ekosistem serta evaluasi sistem keamanan pipa. Namun, hingga saat ini, hitungan kompensasi masih dalam proses, membuat petani tetap dalam ketidakpastian. (red)

58 / 100 Skor SEO