Komentar serupa disampaikan akun IndRa Sulle.
“Janji-janji manis,” tulisnya.
Sementara akun Alado Alado secara terang-terangan meminta agar pemimpin yang tidak menepati janji dan tidak mendengarkan keluhan rakyat diganti.
“Ganti bupati yg TDK menepati janji dan TDK mendengar keluhan rakyat,” tulisnya.
Kritik lebih keras juga disampaikan akun Ladoja Koe.
“Ganti aja bupati nya janji mutaroe,” tulisnya.
Akun tersebut kembali memberikan komentar yang menyinggung kekecewaan masyarakat terhadap kepemimpinan saat ini.
“1 periode aja kmu preeet sdh bnyak masyarakat kecewa,” demikian komentarnya.
Tak hanya itu, akun Ucok Syaputra turut menyinggung pemilihan kepala daerah mendatang.
“Yaa 2029 ganti bupati,” tulisnya.
Perbincangan di media sosial juga diwarnai sindiran terhadap janji politik yang disampaikan saat pemilihan.
Akun Kinan Kinan Kinato menuliskan komentar bernada satire terkait bantuan sosial.
“TPI pupus bansosssss🤣🤣,” tulisnya.
Sementara akun Bung Rhoel memberikan komentar bernada sindiran mengenai akses jalan.
“Tutup akses saja jln poros saja😆😀😅,” tulisnya.
Akun Sultan Rehe juga melontarkan komentar bernada kecewa terhadap pemimpin daerah.
“Sibuk…sekali tauwwa nalupaini..Jancinna…siapa suruko pilih..,” tulisnya.
Beragam komentar tersebut menunjukkan bagaimana keluhan petani Lamedai berkembang menjadi perbincangan yang lebih luas mengenai janji politik dan harapan masyarakat terhadap pemerintah daerah.
Di tengah derasnya kritik, sejumlah warganet juga menyampaikan dukungan kepada Hasmiati dan para petani yang memperjuangkan aspirasi mereka.
Akun Muh Awaluddin Hasan menuliskan, “Semangat bu.”
Dukungan serupa datang dari akun Pajeroo Pajeroo yang juga memberikan semangat kepada Hasmiati.
Sementara akun Irnawati menyampaikan apresiasi atas keberanian perempuan dalam menyuarakan aspirasi.
“🔥🔥🔥🔥 hidup perempuan yang melawan 💪💪,” tulisnya.
Akun Asep Vermak Baju turut memberikan dukungan kepada petani.
“Hidup petani,” tulisnya.
Akun Sorgum Biji Sorgum juga menyampaikan komentar singkat, “Manassa 1 periode.”
Berbagai reaksi tersebut memperlihatkan bahwa perjuangan petani Lamedai mendapat perhatian dari masyarakat di ruang digital. Kritik dan dukungan mengalir, terutama terkait harapan agar pemerintah daerah segera memberikan kepastian terhadap persoalan normalisasi Sungai Oko-Oko.
Sebelumnya, Hasmiati mengungkapkan kekecewaan terhadap janji normalisasi sungai yang disebut belum terealisasi. Dalam video yang beredar, ia mengaku masyarakat bersama mahasiswa telah berulang kali menyampaikan aspirasi kepada pemerintah daerah.
Hasmiati juga menyebut pernah bertemu langsung dengan Bupati Amri dan mendapatkan janji penanganan dalam waktu dua minggu. Namun, menurut pengakuannya, hingga kini masyarakat belum melihat realisasi yang diharapkan.
Ia pun melontarkan pernyataan tajam yang mengingatkan Bupati Kolaka tentang perjuangan politik saat pemilihan.
“Saat mau pemilihan, Bapak mengemis kiri kanan. Ke sana, ke mari, Pak. Giliran kami tertindas, Pak. Bapak pura-pura tutup mata!!”
Keluhan tersebut berangkat dari kekhawatiran petani terhadap ancaman banjir bandang yang dapat merusak lahan persawahan dan mengganggu mata pencaharian masyarakat.
Normalisasi Sungai Oko-Oko menjadi harapan warga untuk mengurangi risiko banjir serta menjaga keberlangsungan pertanian.
Kini, selain menunggu realisasi penanganan sungai, masyarakat juga menantikan respons Pemerintah Kabupaten Kolaka atas kritik yang berkembang di media sosial.
Hingga berita ini disusun, belum terdapat keterangan resmi dari Bupati Kolaka Amri maupun Pemerintah Kabupaten Kolaka terkait tuntutan petani dan berbagai komentar warganet tersebut.
Editor: Xan



Tinggalkan Balasan