Mengenai penyebab pasti kematian, Halking menjelaskan bahwa surat keterangan kematian resmi dari pihak rumah sakit Arab Saudi belum rampung sepenuhnya. Namun, dugaan sementara diprediksi akibat faktor kelelahan fisik akibat tingginya intensitas tugas pelayanan medis selama musim haji bergulir.
Sebagai petugas kesehatan di Kloter UPG 38, dr. Fitri memikul tanggung jawab besar untuk memantau dan mendampingi sekitar 393 jemaah haji. Kloter tersebut berisi gabungan jemaah asal Kota Baubau, Kabupaten Bombana, Buton Selatan, Muna, Muna Barat, dan Kolaka.
Pernyataan senada juga disampaikan oleh Plt Kepala Kantor Wilayah Kemenag Sultra, Muh Lalan Jaya. Lalan membenarkan almarhumah mendapatkan tugas berat mengawal jemaah haji Sultra di kloter tersebut dan telah merasakan sakit akibat kelelahan sejak tanggal 7 Juni.
“Beliau mengalami kelelahan. Tidak ada riwayat sakit kronis sebelumnya, namun dari keterangan dokter pendamping sempat ada indikasi seperti reaksi alergi,” ungkap Lalan.
Sesuai prosedur yang berlaku bagi jemaah maupun petugas haji Indonesia yang wafat di Tanah Suci, proses pemakaman dr. Fitri Rezkiani akan sepenuhnya dilakukan di Arab Saudi.
Sementara itu, Lalan memastikan bahwa seluruh jemaah kloter UPG 38 saat ini masih berada di Tanah Suci dalam kondisi aman usai menyelesaikan fase Armuzna yang merupakan rangkaian puncak dari ibadah haji. Seluruh rombongan dijadwalkan akan bertolak kembali ke tanah air pada 24 Juni mendatang.
Kepergian dr. Fitri Rezkiani menorehkan duka yang teramat dalam bagi keluarga, rekan sesama petugas, serta ratusan jemaah haji yang selama ini mendapat dedikasi pelayanan kesehatan darinya di Tanah Suci. Dengan wafatnya dr. Fitri, jumlah warga Sultra yang dilaporkan meninggal dunia di Arab Saudi selama musim haji tahun ini bertambah menjadi tiga orang. (PDN)



Tinggalkan Balasan