Kendari – Sagu selama ini identik dengan panganan tradisional biasa. Namun di tangan para pelaku UMKM kreatif Sulawesi Tenggara (Sultra), komoditas lokal ini disulap menjadi camilan berkelas internasional yang sukses menembus pasar ekspor.
Dalam pameran UMKM di sela acara Apresiasi Pemda Berprestasi 2026, produk olahan sagu ini sukses mencuri perhatian para menteri dan kepala daerah se-Sulawesi yang hadir.
“Kenapa kami memilih sagu? Karena sagu itu merupakan pangan lokal yang ada di Sulawesi Tenggara. Kami memanfaatkannya agar naik kelas,” ujar salah satu pelaku UMKM Sultra di lokasi pameran, Jumat (29/5/2026).
Sejumlah varian inovatif dipamerkan, mulai dari chips sagu daun kelor, brownies sagu, hingga biskuit sagu cokelat. Istimewanya, seluruh produk ini diproduksi dengan standar kesehatan yang ketat.
Camilan ini diklaim bebas gluten (gluten-free) dan sama sekali tidak menggunakan penyedap rasa (MSG). Sehingga, produk ini sangat aman dan ramah dikonsumsi oleh anak-anak, termasuk anak dengan kebutuhan khusus (autis).
Meski berbahan baku lokal, daya saing produk ini tidak bisa dipandang sebelah mata. UMKM Sultra ini mengaku sudah sering melanglang buana di berbagai pameran nasional hingga internasional.
Bahkan, kerajinan kuliner lokal ini sudah rutin dikirim ke berbagai negara tujuan ekspor di Asia hingga Eropa.
“Kami pun sudah pernah ekspor sampai ke luar negeri. Mulai dari Jepang, Malaysia, Singapura, bahkan hingga ke Belgia,” ungkapnya dengan bangga.

Untuk urusan harga, camilan premium berlabel ramah lingkungan ini dibanderol dengan harga yang sangat terjangkau, yakni Rp 20.000 saja per bungkus.
Selain pangan olahan sagu, stan pameran tersebut juga memamerkan produk kain Tenun Khas Kendari bermotif Gigit yang dijual mulai harga Rp 800.000 serta pakaian adat dengan bahan dasar kain Solume.
(gbr/mna)



Tinggalkan Balasan