“Diperlukan sistem pendukung yang kuat dari hulu ke hilir. Penguatan pemahaman masyarakat desa mengenai mekanisme ekspor akan membuat ekosistem perdagangan luar negeri kita jauh lebih kokoh dan mandiri,” tegas Sukanto Toding.
Sebagai langkah konkret pada tahun 2026 ini, Disperindag Sultra mengusulkan dua wilayah potensial untuk ditetapkan sebagai “Desa Ekspor”. Pertama adalah Desa Lelehao di Kabupaten Kolaka Utara yang berbasis pada komoditas perkebunan cokelat (kakao).
Kedua adalah Desa Awunio di Kabupaten Konawe Selatan (Konsel) yang bertumpu pada sektor kelapa terpadu.
Gebrakan ini berkaca pada keberhasilan nyata dua pemuda lokal yang telah sukses menembus pasar global.
Di Kolaka Utara, seorang pemuda bernama Ruslin terbukti mampu mencatatkan rapor ekspor komoditas kakao secara kontinu ke sejumlah negara besar, terutama China, Amerika Serikat, dan Kanada.
Sementara dari Desa Awunio Konsel, pemuda setempat bernama Dadan baru saja sukses melakukan pengiriman ekspor perdana produk tempurung kelapa ke pasar China.
Menanggapi program tersebut, Kepala Perwakilan BI Sultra, Edwin Permadi, menyatakan dukungan penuhnya terhadap akselerasi Desa Ekspor.
Edwin mengkritisi fenomena ekonomi selama ini, di mana nilai tambah (value added) dari hasil bumi Sultra lebih banyak dinikmati oleh para pedagang pengumpul atau perantara (aggregator), ketimbang petani di akar rumput.
“Diperlukan pengembangan kapasitas dan perluasan wawasan bagi pelaku usaha sejak di tingkat desa. Hal ini penting agar masyarakat desa selaku produsen utama dapat memperoleh nilai ekonomi yang jauh lebih baik dan adil dari hasil keringat mereka sendiri,” urai Edwin Permadi.
Sebagai bentuk intervensi nyata, Bank Indonesia berkomitmen untuk segera menyalurkan bantuan fasilitas pelatihan teknis serta pendampingan berkala bagi para pelaku usaha di desa-desa ekspor tersebut.
Program ini akan difokuskan pada standarisasi mutu komoditas ekspor agar sesuai dengan kualifikasi pasar internasional.
Melalui integrasi program antara Disperindag Sultra dan BI ini, roda perekonomian pedesaan di Sultra diharapkan tidak lagi sekadar menjadi penonton, melainkan mampu bertransformasi menjadi motor penggerak devisa daerah yang tangguh. (PDN)



Tinggalkan Balasan