KENDARI, Perdetiknews.com – Pemandangan berbeda terlihat di lantai dua Kantor Gubernur Sulawesi Tenggara, Senin (3/8/2026).
Tidak ada kesan birokrasi yang kaku maupun protokol yang berbelit. Sebaliknya, ruang kerja Wakil Gubernur Sultra, Hugua, berubah menjadi ruang dialog terbuka yang dipenuhi masyarakat dari berbagai latar belakang.
Di atas meja panjang kayu jati, tersaji air mineral, teh kemasan, kopi, dan aneka kue ringan sebagai suguhan bagi para tamu.
Dengan mengenakan pakaian dinas harian (PDH) berwarna cokelat, Hugua menyambut langsung setiap warga yang datang tanpa sekat.
Hari itu menjadi pelaksanaan kembali program Open Door Monday, komitmen yang sebelumnya disampaikan Hugua untuk membuka ruang kerjanya setiap hari Senin bagi siapa saja yang ingin menyampaikan aspirasi.
“Hari ini tanggal 3 Agustus 2026. Sesuai janji saya, setiap hari Senin saya sebagai Wakil Gubernur Provinsi Sulawesi Tenggara menerima kunjungan kelompok-kelompok masyarakat, pengusaha, LSM, hingga warga secara pribadi. Ayo kita mulai,” ujar Hugua saat membuka audiensi.
Program tersebut sontak menjadi perhatian publik setelah potongan videonya beredar luas di media sosial.
Salah satu momen yang paling menyita perhatian terjadi di kolom komentar Instagram resmi Hugua. Seorang warganet dengan akun @inaltora bertanya apakah masyarakat kecil juga diperbolehkan bertemu secara langsung.

“Klo masyarakat kecil kayak sy boleh bertemu jg kah pak?”
Tanpa berbelit, Hugua menjawab singkat namun penuh makna.
“Saya tunggu bosku 👍”
Balasan sederhana itu menuai banyak respons positif dari warganet. Banyak yang menilai sikap tersebut menunjukkan keterbukaan seorang pemimpin terhadap masyarakat tanpa memandang latar belakang.
Bahkan, sejumlah mantan tenaga honorer K2 yang kini berstatus PPPK turut memanfaatkan kolom komentar untuk meminta agar mereka juga diberikan ruang berdialog secara langsung mengenai berbagai persoalan yang dihadapi.
Di dalam ruang kerja, suasana berlangsung santai namun produktif. Satu per satu kelompok masyarakat bergantian menyampaikan aspirasi.
Mulai dari mahasiswa, organisasi kepemudaan, pelaku usaha, aktivis LSM, tokoh masyarakat hingga warga yang datang secara pribadi duduk bersama dalam satu meja diskusi.
Ada yang membawa proposal pembangunan, ada yang mempresentasikan gagasan melalui komputer jinjing, hingga warga yang hanya ingin bersilaturahmi dan mengabadikan momen bersama Wakil Gubernur.
Hugua tampak serius mendengarkan setiap masukan. Sesekali ia mencatat poin-poin penting yang disampaikan masyarakat, mulai dari persoalan infrastruktur, pemberdayaan ekonomi, tenaga kerja lokal, pelayanan publik hingga isu pembangunan daerah.
Pendekatan komunikasi yang diterapkan Hugua dinilai menjadi warna baru dalam birokrasi Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara.
Dengan menghilangkan sekat antara pejabat dan masyarakat, ruang kerja Wakil Gubernur kini tidak hanya menjadi tempat administrasi pemerintahan, tetapi juga ruang bersama untuk menyerap aspirasi secara langsung.
Melalui program ini, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara berharap komunikasi antara pemerintah dan masyarakat dapat terjalin lebih cepat, terbuka, dan efektif sehingga berbagai persoalan yang berkembang di lapangan dapat segera ditindaklanjuti.
Bagi Hugua, mendengar langsung suara masyarakat merupakan bagian penting dari proses membangun Sulawesi Tenggara yang lebih responsif, partisipatif, dan berpihak pada kepentingan rakyat. (red)


Tinggalkan Balasan