KENDARI – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan memperkuat sinergitas strategis bersama sektor swasta guna memutus mata rantai kemiskinan di daerah.
Melalui kemitraan terintegrasi dengan PT Ceria Nugraha Indotama (CNI), pemerintah menargetkan pencapaian ambisius “Nol Kemiskinan Ekstrem” pada tahun 2026 melalui pemberdayaan sektor Industri Kecil dan Menengah (IKM).
Langkah konkret ini berjalan selaras dengan visi Gubernur Sulawesi Tenggara, Mayjen TNI (Purn) Andi Sumangerukka, yang memprioritaskan transformasi ekonomi inklusif.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sultra, Dr. Ir. Sukanto Toding, MSP., MA, menyatakan bahwa program ini merupakan pengejawantahan dari Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2025 tentang Percepatan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem di tanah air.

“Sinergi ini bukan sekadar program seremonial, melainkan langkah nyata untuk mengintegrasikan IKM lokal ke dalam rantai pasok industri besar. Kita bertransformasi dari masyarakat prasejahtera menjadi pelaku usaha mandiri yang kompetitif,” ujar Sukanto Toding dalam kunjungannya ke site operasional PT CNI baru-baru ini.
Dalam kolaborasi ini, PT Ceria Nugraha Indotama memegang peran sentral sebagai mitra pembangunan daerah. Perusahaan bertindak sebagai offtaker atau penyerap produk dan jasa yang dihasilkan oleh IKM dan UMKM binaan di wilayah lingkar tambang.
Pola kemitraan link and match ini memastikan adanya keberlanjutan pasar bagi produk lokal, sehingga siklus kesejahteraan ekonomi dapat berputar secara maksimal di level akar rumput.

Direktur Operasional PT CNI, Yusram Rantesalu, didampingi GM Site Operasional Wahyu Maradona, menegaskan komitmen perusahaan dalam mendukung agenda pemerintah daerah. Menurutnya, keberhasilan industri ekstraktif harus berjalan beriringan dengan peningkatan taraf hidup masyarakat sekitar.

“PT CNI berkomitmen penuh menjadi bagian dari solusi pengentasan kemiskinan di Sulawesi Tenggara. Melalui program kemitraan strategis, kami memfasilitasi legalitas produk, standardisasi sertifikasi Halal, PIRT, TKDN, hingga HAKI agar produk lokal memiliki daya saing nasional maupun global,” tutur manajemen PT CNI.
Selain aspek legalitas, fokus pemberdayaan juga menyentuh digitalisasi dan inovasi teknologi tepat guna. Salah satu terobosan yang dikembangkan adalah pemanfaatan limbah slag nikel menjadi material konstruksi bernilai ekonomis yang dikelola langsung oleh masyarakat lokal.
Dengan perpaduan kebijakan pemerintah yang kuat dan dukungan sektor swasta yang konsisten, Sulawesi Tenggara optimistis mampu menciptakan ekosistem industri yang inklusif. Muara dari seluruh upaya ini adalah terciptanya kemandirian ekonomi yang permanen bagi masyarakat prasejahtera di seluruh pelosok Sulawesi Tenggara.



Tinggalkan Balasan