Skema antrean dibuat bergantian agar pelayanan tetap tertib dan warga tidak perlu berdesakan di bawah terik matahari.

“Kami datang bergantian dengan tetangga. Saya jalan kaki saja karena dekat, tapi yang lain banyak juga yang pakai motor. Sayang kalau dilewatkan karena selisih harganya lumayan dibanding pasar,” ujar salah seorang warga yang baru saja menyelesaikan transaksi.

Kehadiran GPM ini merupakan respons nyata Kadin Sultra atas instruksi Ketua Umum Anton Timbang guna menekan angka inflasi Kabupaten Kolaka yang saat ini mencapai 7,77 persen.

Kadin memberikan subsidi harga hingga Rp 5.000 per paket untuk meringankan beban ekonomi masyarakat.

Andi Yuslim Patawari (AYP) Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia bersama Wakil Ketua Kadin Sultra, Sastra Alamsyah dan pengurus Kadin Sultra, yang memantau langsung pergerakan warga, menyebut pola kedatangan warga yang tak kunjung putus ini menandakan bahwa masyarakat sangat membutuhkan intervensi harga.

“Sejak dibuka jam 9 tadi, warga tak henti-hentinya berdatangan. Ada yang jalan kaki, ada yang naik motor, semua kita layani secara bergantian. Ini membuktikan bahwa daya beli masyarakat memang sedang terpukul dan harga di pasar sudah di luar batas kewajaran,” ungkapnya.

Di sela-sela pantauan kedatangan warga, Sastra kembali menegaskan bahwa fenomena ini menjadi bukti adanya ketimpangan distribusi di Kolaka.

Ia kembali menyoroti dugaan permainan mafia logistik dan pangkalan LPG nakal yang menjual gas hingga Rp 25.000.

“Harapan kita, intervensi ini tidak hanya dari sisi pangan. Satgas Pangan harus melihat antusiasme warga di sini sebagai sinyal bahwa di pangkalan dan distributor ada yang tidak beres,” tambahnya.

Hingga berita ini diturunkan, arus warga di pekarangan Kantor Camat Pomalaa masih terpantau padat merayap namun tetap kondusif.

Warga terus berdatangan untuk mendapatkan beras, minyak goreng, dan gula pasir murah sebagai persiapan memasuki bulan suci Ramadan.(red/red)

67 / 100 Skor SEO