Konawe Selatan – Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang membahas aktivitas pertambangan bijih nikel dan Terminal Khusus (Tersus) PT Tambang Indonesia Sejahtera (TIS) di Konawe Selatan (Konsel), Sulawesi Tenggara, berakhir ricuh. Suasana memuncak ketika mantan Kepala Desa Bangun Jaya yang kini berstatus nonaktif meluapkan keputusasaannya di hadapan para pimpinan rapat dan instansi terkait.
Dalam jalannya audiensi, protes keras dilayangkan terkait jarak pembangunan Tersus atau jetti yang dinilai terlalu dekat dengan pemukiman warga, yaitu hanya berkisar 33 meter. Sang mantan Kades menepis klaim dari instansi-instansi yang merasa prosedur perizinan mereka sudah paling benar tanpa melihat kondisi nyata masyarakat di tingkat bawah.
“Kalau memang secara korporasi kita ingin menolong karena oknum-oknum yang memberikan keteledoran atau penjelasan atau izin kepada perusahaan-perusahaan tidak bertanggung jawab, lebih baik hari ini, Bu, kita bantai masyarakatmu!” teriaknya dengan nada emosional, yang langsung disambut sorakan riuh dari warga yang memadati ruang rapat.
Kalimat ekstrem tersebut dinilai sebagai puncak gunung es dari kekecewaan warga tapak yang merasa diabaikan selama bertahun-tahun. Menurut penuturannya, sejak dirinya dilantik pada Februari 2020 lalu, pihak desa tidak pernah dilibatkan dalam sosialisasi AMDAL maupun tata kelola Tersus oleh pihak korporasi.
Selain masalah transparansi, ia membeberkan dampak nyata yang merugikan mata pencaharian warga setempat. Salah satunya adalah keberadaan jetti perusahaan yang dituding telah menimbun alat tangkap ikan (sero) milik nelayan tradisional, namun kondisinya selama ini terkesan ditutup-tutupi.



Tinggalkan Balasan