Namun, ia meminta harga tersebut kembali ditekan hingga Rp25.000 per kemasan.
Untuk merealisasikan harga tersebut pada distribusi awal sebanyak 5 ton beras, diperlukan subsidi Rp30.000 per kemasan atau sekitar Rp150 juta. Dana itu, menurut gubernur, akan ditanggung secara pribadi.
“Pastikan di lapangan masyarakat membayar Rp25.000. Jangan lebih. Saya akan cek,” ujarnya.
Pasar murah akan difokuskan di daerah dengan inflasi pangan tertinggi berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), yakni Kolaka, Baubau, dan Konawe, serta Kendari.
Distribusi direncanakan masing-masing 1 ton untuk Kolaka, Baubau, dan Konawe, serta 2 ton untuk Kendari.
Langkah ini diharapkan mampu menahan laju kenaikan harga sekaligus menjaga daya beli masyarakat.
Selain pasar murah, pemerintah juga menyiapkan bantuan pangan alokasi Februari–Maret sebanyak 6.000 ton beras bagi 217.133 keluarga penerima manfaat di Sulawesi Tenggara.
Setiap keluarga akan menerima 10 kilogram beras dan 2 liter minyak goreng untuk dua kali penyaluran.
Gubernur menekankan pentingnya validasi data penerima secara by name by address agar bantuan tepat sasaran dan tidak terjadi tumpang tindih antara penerima bantuan sosial dan pembeli beras subsidi pasar murah.
“Kita ingin yang benar-benar membutuhkan yang merasakan manfaatnya,” kata dia.
Pemantauan langsung ke lapangan ini menjadi bagian dari upaya pengendalian inflasi daerah serta memastikan ketersediaan dan stabilitas harga bahan pokok menjelang Lebaran. (red)



Tinggalkan Balasan