KENDARI – Kasus dugaan pengambilan pukat nelayan secara diam-diam tanpa sepengetahuan pemilik di Desa Kombikuno kini menjadi sorotan publik.
Peristiwa tersebut memicu keprihatinan mendalam lantaran menyangkut hak kepemilikan harta benda serta ancaman langsung terhadap mata pencaharian utama seorang nelayan lokal bernama La Ode Abdul Edi Ase.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, pukat yang dipersoalkan tersebut awalnya merupakan alat tangkap bantuan yang diberikan kepada seorang warga bernama Tile.
Hak kepemilikan alat tersebut kemudian beralih sah kepada La Ode Abdul Edi Ase melalui transaksi jual beli resmi yang disaksikan langsung oleh Tonda dan Dian Bahri.
Sejak transaksi itu, pukat tersebut menjadi modal utama Edi Ase untuk mencari nafkah demi menghidupi keluarganya.



Tinggalkan Balasan