JAKARTA, – Bank Indonesia (BI) memperkuat bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan pasar keuangan global.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengungkapkan, kondisi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih mengalami tekanan hingga awal November 2026.
Pada Rabu (4/11/2026), nilai tukar dolar AS bergerak di level Rp18.159,65. Sementara itu, Destry menyebut hingga 2 November 2026 rupiah berada di level Rp18.145 per dolar AS.
Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan perkembangan pada September 2026. Saat itu, rupiah sempat mengalami penguatan hingga berada di kisaran Rp17.830 per dolar AS.
Dalam pemaparannya, Destry menjelaskan pelemahan rupiah dipengaruhi sejumlah faktor eksternal. Di antaranya eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah, berlanjutnya pengetatan kebijakan moneter Amerika Serikat, serta sentimen investor global terhadap aset negara berkembang.



Tinggalkan Balasan