JAKARTA – Pintu kontrakan sederhana itu terbuka perlahan. Di dalam ruangan yang tak begitu luas, seorang balita berusia 22 bulan terbaring di tempat tidur.
Tubuh mungilnya menyimpan perjuangan yang tak sebanding dengan usianya.
Namanya Aulya Shanum.
Sejak lahir, Aulya harus menghadapi penyakit yang begitu berat. Kerusakan paru-paru, katup jantung yang terbuka, hingga gangguan hati yang kini mengharuskannya menjalani transplantasi organ menjadi bagian dari perjuangan hidup yang belum usai.
Di sampingnya, sang ibu tak pernah beranjak. Wajahnya tampak tegar, meski perjalanan panjang yang dilalui keluarganya telah menguras tenaga, air mata, bahkan seluruh harta yang mereka miliki.
“Saya sudah jual rumah… apapun yang ada di Kendari sudah kami jual. Hampir satu tahun di Jakarta habis untuk beli susu dan biaya obat-obatan, Pak,” ucapnya lirih.
Kalimat itu bukan sekadar keluhan. Ia adalah potret bagaimana sebuah keluarga mempertaruhkan segalanya demi mempertahankan nyawa buah hati mereka.
Kisah Aulya rupanya pernah bersinggungan dengan Gubernur Sulawesi Tenggara, Mayjen TNI (Purn) Andi Sumangerukka, pada Jumat, 26 September 2025.

Saat itu, sang ibu menceritakan kondisi anaknya yang membutuhkan penanganan medis, namun terkendala biaya karena tidak seluruhnya ditanggung BPJS.
“Rumah sakit mana? Soalnya tidak ditanggung BPJS,” katanya.
Mendengar cerita itu, Andi Sumangerukka langsung mengambil keputusan.
“Langsung dibawa ke rumah sakit. Nanti saya tanggung untuk sementara. Segera bawa ke rumah sakit,” ujarnya.
Bantuan awal sebesar Rp10 juta diberikan agar Aulya bisa segera mendapatkan penanganan dan dirujuk ke Jakarta.
Namun perjalanan menuju kesembuhan ternyata jauh lebih panjang daripada yang dibayangkan.
Hampir setahun berada di Jakarta, Aulya belum juga menjalani transplantasi hati.
Bukan karena dokter belum siap.
Melainkan karena biaya yang dibutuhkan masih menjadi penghalang.
“Belum maju transplantasi karena kendala biaya, Pak,” tutur sang ibu.
Selain penyakit hati, dokter juga menemukan kerusakan paru-paru serta katup jantung yang masih terbuka.
Prioritas utama kini adalah transplantasi hati agar kerusakan tidak merembet ke organ lain.
Usia Aulya yang baru menginjak 22 bulan membuat waktu menjadi musuh terbesar.
Pada Minggu, 26 Juli 2026, usai tiba di Jakarta, Andi Sumangerukka memilih langsung mengunjungi kontrakan tempat keluarga Aulya tinggal.
Bukan ruang pertemuan resmi.
Bukan pula acara seremonial.
Ia duduk mendengarkan satu per satu cerita perjuangan keluarga kecil itu.
Sang ibu kemudian menceritakan perkembangan Aulya.
Dulu, saat pertama kali bertemu gubernur, kondisi putrinya masih mengalami gizi buruk. Kini berat badannya mulai membaik setelah mendapatkan pengobatan dan menjalani operasi paru-paru.
Meski demikian, jalan menuju kesembuhan masih sangat panjang.
Mendengar cerita tersebut, Andi Sumangerukka berpesan agar Aulya dijaga dari paparan asap rokok dan memastikan pemerintah daerah akan terus memberikan pendampingan.
“Akan saya kasih setiap bulan. Tanya sama Dinas Kesehatan bagaimana tindak lanjutnya,” katanya.
Sebelum berpamitan, ia kembali menyerahkan bantuan kepada keluarga.
“Ini dipakai untuk makan dulu ya,” ucapnya sembari menyerahkan bantuan kepada orang tua Aulya.
Bagi keluarga Aulya, bantuan materi memang sangat berarti.
Namun lebih dari itu, perhatian yang datang dari kampung halaman memberi keyakinan bahwa mereka tidak sedang berjuang sendirian di ibu kota.
“MasyaAllah, suatu kebanggaan buat kami. Dari bandara langsung ke sini. Terima kasih banyak, Pak Gubernur,” ujar sang ibu dengan mata berkaca-kaca.
Di sudut kamar itu, Aulya belum mampu mengucapkan sepatah kata pun.
Namun tatapan kedua orang tuanya seolah menyampaikan satu harapan yang sama: semoga ada jalan agar transplantasi hati segera terlaksana dan putri kecil mereka mendapat kesempatan untuk tumbuh seperti anak-anak lainnya.
Sebab bagi keluarga ini, kesembuhan bukan lagi sekadar impian.
Ia adalah perjuangan yang dibayar dengan rumah yang terjual, waktu yang terlewati, dan keyakinan bahwa di tengah ujian yang berat, selalu ada tangan-tangan yang memilih hadir untuk menguatkan. (red)


Tinggalkan Balasan