KENDARI — Perekonomian Kota Kendari mencatat pertumbuhan 7,78 persen pada Triwulan I 2026. Capaian tersebut menempatkan ibu kota Sulawesi Tenggara itu dalam tiga besar pertumbuhan ekonomi kota tertinggi secara nasional berdasarkan data yang dipaparkan Kementerian Dalam Negeri.
Angka tersebut menjadi kabar positif bagi Kota Kendari di tengah upaya pemerintah daerah memperkuat sektor usaha, menjaga daya beli masyarakat, sekaligus membuka lebih banyak peluang ekonomi bagi pelaku usaha lokal.
Wali Kota Kendari, dr. Hj. Siska Karina Imran, mengatakan capaian tersebut tidak berdiri sendiri. Pertumbuhan ekonomi merupakan hasil pergerakan berbagai sektor, mulai dari aktivitas masyarakat, pelaku usaha, distribusi barang hingga konsumsi.
“Pertumbuhan ekonomi tersebut diharapkan terus diperkuat melalui pengembangan sektor usaha, peningkatan pendapatan masyarakat dan penciptaan lapangan kerja,” kata Siska, seperti dikutip dalam pemberitaan Pemkot Kendari.
Kinerja ekonomi Kendari menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir.
Data Pemerintah Kota Kendari yang dipaparkan dalam forum China–Indonesia Dialogue on Local Government Cooperation 2026 menunjukkan pertumbuhan ekonomi Kendari mencapai 4,81 persen pada 2024, kemudian meningkat menjadi 5,16 persen pada 2025. Pada Triwulan I 2026, angka yang dipaparkan Kemendagri mencapai 7,78 persen.
Capaian tersebut menjadi modal bagi Pemkot Kendari untuk mendorong aktivitas ekonomi yang lebih produktif, terutama melalui penguatan usaha masyarakat dan penciptaan lapangan kerja.
Salah satu sektor yang tengah didorong adalah industri kecil dan menengah (IKM), khususnya pengolahan pangan.
Pemkot Kendari baru-baru ini mengaktifkan kembali Sentra IKM Olahan Pangan sebagai ruang bagi pelaku usaha lokal untuk mengembangkan produk sekaligus memperluas pemasaran.
Kota Kendari disebut memiliki sekitar 600 IKM khusus olahan pangan dengan kemampuan menyerap sekitar 1.500 tenaga kerja. Potensi tersebut dinilai dapat menjadi salah satu penggerak ekonomi daerah.
Di balik angka pertumbuhan 7,78 persen, pemerintah daerah masih menghadapi pekerjaan penting: memastikan pertumbuhan ekonomi benar-benar memberikan dampak kepada masyarakat.
Salah satunya melalui penguatan UMKM dan pelaku usaha lokal.
Wali Kota Siska mendorong agar kebutuhan masyarakat yang besar dapat menjadi peluang bagi pelaku usaha Kendari, bukan justru lebih banyak dipenuhi dari luar daerah.
Salah satu contohnya kebutuhan telur yang disebut mencapai lebih dari 100 ribu butir per hari, termasuk untuk memasok 39 Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur program MBG.
Dengan kebutuhan pasar yang besar tersebut, pemerintah ingin menciptakan efek berganda atau multiplier effect bagi masyarakat lokal.
Artinya, pertumbuhan ekonomi tidak hanya terlihat dalam angka statistik, tetapi juga diterjemahkan menjadi peningkatan transaksi usaha, pendapatan masyarakat dan kesempatan kerja.
Pertumbuhan ekonomi yang tinggi juga harus diikuti dengan pengendalian harga.
Data terbaru yang diberitakan terkait kondisi Kota Kendari menunjukkan inflasi year-on-year Agustus 2026 sebesar 3,66 persen, sementara secara bulanan tercatat minus 0,37 persen. Pemerintah daerah tetap mewaspadai potensi gangguan pasokan pangan yang dapat memicu kenaikan harga.
Sebelumnya, BPS Kota Kendari juga mencatat inflasi Mei 2026 sebesar 3,97 persen year-on-year, dengan kenaikan pada sejumlah kelompok pengeluaran, antara lain makanan, minuman dan tembakau serta transportasi.
Karena itu, Pemkot Kendari melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus memperkuat koordinasi dengan BPS, Bulog, distributor, pelaku usaha dan aparat terkait untuk menjaga pasokan dan stabilitas harga.
Bagi pemerintah daerah, stabilitas harga menjadi bagian penting agar pertumbuhan ekonomi tidak tergerus oleh penurunan daya beli masyarakat.
Selain UMKM dan perdagangan, Pemerintah Kota Kendari juga tengah membuka ruang pengembangan sektor pariwisata dan investasi.
Dalam pemaparan kepada delegasi China–Indonesia Dialogue on Local Government Cooperation 2026, Wali Kota Siska menyebut PDRB per kapita Kendari sekitar Rp85,16 juta per tahun, sementara total investasi yang disampaikan mencapai sekitar Rp2,2 triliun.
Sektor pariwisata juga menunjukkan perkembangan. Pemkot mencatat sekitar 363 ribu kunjungan wisatawan pada 2025, termasuk wisatawan mancanegara dari 37 negara.
Pantai Nambo menjadi salah satu kawasan yang dikembangkan sebagai destinasi sekaligus kawasan ekonomi. Hingga Juli 2026, pendapatan asli daerah dari kawasan tersebut disebut telah mencapai sekitar Rp1 miliar, meningkat dibandingkan sekitar Rp124 juta sebelumnya.
Pemerintah Kota Kendari juga menawarkan peluang pengembangan kawasan industri dengan luasan sekitar 1.500 hektare kepada calon mitra investasi.
Dengan pertumbuhan ekonomi yang mencapai 7,78 persen, tantangan berikutnya bukan sekadar mempertahankan angka tersebut. Pemerintah perlu memastikan pertumbuhan tetap inklusif, membuka lapangan kerja, memperkuat usaha lokal, menjaga harga kebutuhan pokok dan meningkatkan daya beli masyarakat.
Editor: Ixan





Tinggalkan Balasan