KONAWE — Di pesisir Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe, perairan Selat Tiworo sedang surut, menyisakan hamparan pasir dan jajaran tiang pancang yang menopang pemukiman.
Di kejauhan, Pulau Bokori menyembul sebagai magnet wisata bahari andalan Sulawesi Tenggara. Namun, jika lensa kamera digeser sedikit ke arah daratan tepat di sebuah pemukiman di atas air bernama Desa Bokori, pemandangan air surut itu seketika menyingkapkan realitas yang rapuh.
Selama puluhan tahun, riak gelombang di bawah rumah-rumah panggung suku Bajo tidak hanya berfungsi sebagai pelataran hidup, melainkan juga tempat pembuangan akhir limbah domestik.

Paralon-paralon lurus menembus lantai kayu, menjatuhkan kotoran mentah langsung ke jantung laut. Sebuah kebiasaan turun-temurun yang mengaburkan batas antara halaman rumah dan sanitasi liar.
Kondisi inilah yang membentang di depan mata Arinta Andi Sumangerukka saat jajaran Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Provinsi Sulawesi Tenggara menyusuri titian kayu yang mulai lapuk di Soropia.
“Sulawesi Tenggara itu lautnya bagus sekali, indah sekali. Tapi dengan adanya jamban seadanya ini, akhirnya sangat mengurangi keindahannya, kelestarian, dan kebersihannya,” ujar Arinta, Ketua TP PKK Sultra, di sela-sela peninjauannya.
Keresahan ekologis dan kemanusiaan tersebut kini mewujud menjadi program intervensi nyata. Melalui sinergi lintas sektor, PKK Sultra mencoba memutus rantai pencemaran pesisir ini, bukan dengan paksaan, melainkan lewat keteladanan teknologi dan sentuhan sosial.


Secara teknis, intervensi yang digerakkan oleh Arinta Andi Sumangerukka berpusat pada perombakan total cara pandang masyarakat terhadap jamban sehat.
Lewat Kelompok Kerja (Pokja) Tiga dan Empat yang membidangi Kesehatan, Kelestarian Lingkungan Hidup, dan Perencanaan Sehat, PKK Sultra enggan sekadar membangun bilik estetis.
Mereka membawa inovasi teknologi tangki septik (septic tank) komersial kedap air.
Berbeda dengan model cemplung konvensional yang membiarkan bakteri patogen seperti Escherichia coli merusak biota laut, tangki baru ini ditanam di bawah struktur rumah panggung dengan sistem alur penampungan berkelok-kelok.
Struktur ini dirancang khusus agar limbah domestik mengalami penguraian alami dan penyaringan biologis di dalam tangki sebelum sisa cairannya yang telah aman dialirkan keluar.
Untuk mewujudkan satu paket lengkap fasilitas sanitasi ramah lingkungan ini—yang meliputi pengadaan tangki septik khusus, material bangunan bilik berseng biru cerah, hingga ongkos pengerjaan fisik—PKK Sultra mengalokasikan anggaran pribadi sekitar Rp18 juta per unit.
Spesifikasi Paket Sanitasi Mandiri PKK Sultra:
Komponen Fisik: Bilik jamban, tangki septik kedap air model alur kelok, instalasi pipa paralon rapi.
Fasilitas Higienitas Interior: Gayung, ember air, sikat toilet, sabun pembersih, dan tisu.
Namun, mengaplikasikan teknologi ini di pemukiman atas air tidak semudah membalikkan telapak tangan. Pengurus PKK Sultra menemui tantangan tata ruang yang pelik.
Secara ekologis, model ideal untuk wilayah pesisir adalah septic tank komunal, di mana satu tangki raksasa digunakan secara kolektif oleh beberapa rumah.
Sayangnya, posisi rumah panggung di Desa Bokori saat ini masih menyebar tanpa perencanaan terpusat.
Jarak antar-hunian yang berjauhan memicu risiko tinggi pipa sambungan patah atau bocor di tengah jalan akibat hantaman ombak dan pasang surut.
Oleh karena itu, pendekatan unit mandiri menjadi pilihan paling realistis sembari menyiapkan cetak biru penataan pemukiman yang lebih rapi ke depan.
Bergerak dari data lapangan, TP PKK Sultra menerapkan skala prioritas yang ketat. Di Soropia, program ini diawali dengan membangun 4 buah jamban percontohan, dan siap menambah 6 unit lagi pasca-survei.
“Awalnya saya pilih keluarga yang memang benar-benar tidak mampu. Rata-rata mereka memang tidak ada biaya untuk membuat jambannya,” jelas Arinta.
Menariknya, persoalan sanitasi di Sultra rupanya bukan melulu soal kemiskinan struktural.
Dalam banyak kasus, ada warga yang secara finansial mampu, namun karena faktor kultural dan kebiasaan turun-temurun, higienitas belum menjadi skala prioritas.
Di sinilah fungsi “jamban contoh” bekerja sebagai stimulan sosial. Arinta optimis, kenyamanan visual dan kesehatan yang dirasakan penerima manfaat akan memotivasi tetangga sekitar untuk mereplikasinya secara swadaya.
Dampak intervensi PKK Sultra tidak berhenti di urusan toilet. Di bawah koordinasi Pokja 3 (Pangan, Sandang, Perumahan, dan Tata Laksana Rumah Tangga) yang berkolaborasi dengan Dinas Perkebunan Provinsi, program ini meluas menjadi restorasi kualitas hidup yang holistik.

Napas segar itu di antaranya dihirup oleh pasangan muda Saifullah Rizki (30) dan Destri Amalia (26). Bersama dua balitanya, Zehan (4) dan Zeana (1), mereka sebelumnya bertahan di gubuk ringkih berbahan tripleks dan kalsibor.
Saban badai pesisir mengamuk, air laut dan hujan merembes masuk. Urusan buang air pun harus menumpang ke rumah orang tua.
Kini, melalui gotong-royong warga selama 45 hari, gubuk itu menjelma menjadi rumah batu permanen yang kokoh berukuran 6 x 7 meter di atas lahan seluas 10 x 15 meter.
Rumah bernuansa hijau toska dan putih itu dilengkapi dua kamar tidur, akses air bersih, listrik, serta jamban sehat privat.
Tidak hanya itu, pekarangan masuk hunian kini disulap menjadi kebun mini produktif. Media-media polybag hijau subur ditanami kangkung, cabe, tomat, dan kacang panjang untuk menopang ketahanan pangan keluarga.
“Sekarang tiap pagi dan sore ada kegiatan baru siram tanaman. Masalah kesehatan juga jauh lebih baik karena kami tidak perlu menumpang buang air lagi ke rumah orang lain,” tutur Destri dengan mata berkaca-kaca saat menerima kunci rumah dan prasasti peresmian langsung dari tangan Arinta.

Melihat dampak masif ini, Camat Soropia, Harianti, S.Pd., M.M., tidak dapat menyembunyikan rasa harunya. Berdasarkan datanya, masih ada sekitar 40 Kepala Keluarga di wilayahnya yang membutuhkan fasilitas serupa.
Kehadiran PKK Sultra yang datang membawa paket komprehensif—mulai dari bedah rumah, bantuan stunting, pembagian 100 paket sembako murah, hingga edukasi 6 langkah mencuci tangan telah menyuntikkan harapan baru.

Di akhir kunjungannya, saat menyusuri jamban seng biru milik keluarga Pak Darwis, Arinta juga menyempatkan diri melakukan pendekatan persuasif kepada istri Darwis yang menikah dini di usia 14 tahun.
Dengan lembut, ia mengedukasi pentingnya memanfaatkan layanan Posyandu demi memutus rantai keterbatasan pola asuh, agar anak-anak pesisir kelak bisa sekolah hingga jenjang sarjana.
Dari pesisir Konawe, langkah Arinta Andi Sumangerukka menegaskan sebuah pesan, memulihkan kelestarian laut Sulawesi Tenggara harus dimulai dengan memulihkan martabat dan kualitas hidup manusia-manusia yang hidup di atas ombaknya.
Program yang telah menjangkau 17 kabupaten/kota ini menjadi bukti bahwa PKK bukan sekadar organisasi formalitas, melainkan penggerak perubahan yang dampaknya benar-benar dirasakan langsung oleh masyarakat bawah.
Editor: Ikhsan



Tinggalkan Balasan