Jakarta – Jarum jam menunjukkan pukul 02.00 WIB. Di sebuah bar temaram di kawasan Senopati, kepulan asap rokok tipis menyelimuti wajah Mawar (nama samaran).
Ia bukan gadis sembarangan yang Anda temui di halte busway. Penampilannya paripurna: gaun satin yang memeluk lekuk tubuh, aroma parfum seharga jutaan rupiah, dan tas desainer terbaru yang tergeletak manis di samping gelas martini-nya.
Namun, di balik riasan flawless itu, tersimpan sebuah rahasia yang ia simpan rapat dari dunia luar: Ia adalah “piaraan” seorang penguasa gedung tinggi di Sudirman.
Mawar memulai kisahnya dengan sebuah pengakuan jujur yang dingin. Bagi banyak gadis perantauan, Jakarta adalah medan tempur. Baginya, itu adalah etalase.
“Jakarta itu keras kalau kamu tidak punya uang, tapi sangat ramah kalau kamu punya segalanya. Saya memilih jalan yang paling ramah,” ujarnya sembari menyesap minumannya.



Tinggalkan Balasan