“Sebaliknya, penyakit kulit dan masalah kesehatan akibat kualitas air yang memburuk kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mereka,” tulis laporan Satya Bumi di betahita.id, Jumat (29/5/2026).
Selain memicu penyakit kulit, rusaknya ekosistem laut membuat perairan yang dahulu menjadi sumber kehidupan utama masyarakat kini berubah menjadi zona yang semakin tidak aman.
Kondisi memprihatinkan ini memicu gelombang protes dari koalisi masyarakat sipil. Mereka menuntut pertanggungjawaban dari para investor global, termasuk raksasa otomotif dunia, Ford Motor Company, yang memiliki 8,5% saham di PT Kolaka Nickel Indonesia (PT KNI).
Satya Bumi mendesak PT KNI dan seluruh operator Proyek Blok Pomalaa segera melakukan audit independen. Operator juga didesak memberikan kompensasi serta reparasi yang adil kepada komunitas adat yang terdampak.
(pdn)



Tinggalkan Balasan