“Kami sangat berharap program pengaspalan ini bisa dikomunikasikan lebih lanjut antara eksekutif dan legislatif agar mendapat perhatian serius,” ujar Burhanuddin.
Pembangunan jalan sepanjang 800 meter sebelumnya telah dilakukan di masa kepemimpinan Pj Wali Kota Kendari, Asmawa Tosepu. Namun, masih banyak ruas jalan yang perlu diperbaiki agar aktivitas warga tidak terhambat.
Selain infrastruktur, isu kesehatan, khususnya stunting, juga menjadi sorotan. Harmawati yang juga Dewan Pakar Pengurus Daerah Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Sultra, menekankan pentingnya gizi yang baik bagi generasi mendatang.
Ia mengingatkan bahwa Sulawesi Tenggara masih bergulat dengan angka stunting yang berkisar 27 persen menurut data nasional.
“Tanah kita subur, tanam apa saja bisa hidup. Air melimpah, laut kaya ikan. Dengan sumber daya yang ada, seharusnya angka stunting kita bisa ditekan,” ujarnya dalam dialog dengan warga.

Sebagai Ketua BPW Ikatan Wanita Sulawesi Selatan Provinsi Sultra, Harmawati mengajak warga untuk memahami bahwa perbaikan gizi harus dimulai sejak dini, bahkan sejak seorang perempuan masih gadis. Menurutnya, gizi yang baik adalah investasi masa depan.
“Kalau kita ingin generasi yang lebih maju, kita harus mulai dari gizinya. Perbaikan gizi itu tidak hanya saat hamil, tapi sejak remaja. Asupan gizi yang baik sejak dini akan berdampak pada kesehatan kehamilan dan tumbuh kembang anak nantinya,” tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut, Ketua Kelompok Tani (Kapoktan) Kampung Amohalo, Arif, juga menyampaikan harapan warga terkait pertanian. Ia menekankan perlunya normalisasi kali dengan pembangunan tanggul untuk mengantisipasi banjir yang dapat merusak lahan pertanian.
“Kami juga mengusulkan agar sumur bor yang akan dibangun tidak berada dalam pagar rumah warga, agar bisa dimanfaatkan oleh masyarakat luas,” kata Arif.

Selain itu, penerangan jalan juga menjadi kebutuhan mendesak bagi warga. Minimnya lampu jalan membuat aktivitas warga pada malam hari menjadi terbatas dan meningkatkan risiko kecelakaan.
Menanggapi berbagai aspirasi ini, Harmawati berjanji akan memperjuangkan dana aspirasi untuk pembangunan beberapa titik sumur bor di Kampung Amohalo. Ia menegaskan bahwa ketersediaan air bersih akan menjadi faktor penting dalam mendukung sektor pertanian dan kesejahteraan warga.
“Kami akan berupaya semaksimal mungkin memperjuangkan aspirasi masyarakat, termasuk penyediaan sumur bor untuk mendukung pertanian di daerah ini,” ujarnya.
Reses perdana ini tidak sekadar menjadi wadah komunikasi antara rakyat dan wakilnya, tetapi juga menjadi momentum bagi warga Amohalo untuk berharap lebih besar pada perubahan nyata. Infrastruktur yang baik dan gizi yang terjaga menjadi dua kunci utama yang mereka yakini dapat membawa perubahan bagi generasi mendatang. (red)



Tinggalkan Balasan