Lebih lanjut, Made menekankan bahwa keberagaman masyarakat Wawonii adalah aset yang berharga. “Meski mayoritas masyarakat di sini beragama Islam, mereka sangat terbuka terhadap siapa pun, dari suku, budaya, dan agama apa pun. Ini mencerminkan semangat persatuan dalam keberagaman,” tambahnya.

Acara sederhana ini terasa meriah dengan berbagai penampilan hiburan dan seni tradisional. Pembukaan kegiatan diwarnai tarian Hegong, sebuah tarian khas Maumere, Flores, yang diiringi gong Waning yang dibawa langsung dari daerah asalnya. Para remaja Stasi Santo Matius juga mempersembahkan paduan suara dengan balutan kain tenun Nusa Tenggara Timur, menghadirkan suasana yang sarat akan nilai budaya.

Kehadiran kelompok transmigran dari berbagai wilayah, seperti Flores, Bali, dan Jawa, turut memperkaya keragaman budaya di Desa Wawo Indah. Sebagai bagian dari program transmigrasi yang dimulai sejak 1992, mereka telah menjadi bagian tak terpisahkan dari masyarakat Wawonii. Harmoni ini semakin mempertegas identitas Wawonii sebagai pulau yang ramah dan inklusif.

“Kami berterima kasih atas dukungan PT GKP dan semua pihak yang terlibat. Semoga hubungan baik ini terus terjalin di masa depan,” ujar Yustinus dengan penuh harap. Perayaan Natal ini bukan hanya menjadi momen religius, tetapi juga wujud nyata dari komitmen bersama untuk menjaga kerukunan di tengah keberagaman.

Dengan semangat Natal yang penuh cinta kasih, Wawonii menunjukkan bahwa keberagaman bukanlah penghalang, melainkan jembatan untuk saling memahami dan menghargai. Perayaan ini mengukuhkan bahwa harmoni adalah kunci menuju masyarakat yang damai dan sejahtera. (red)

61 / 100 Skor SEO