“Gambar-gambar Menteri Israel Ben-Gvir tidak dapat diterima. Tidak dapat diterima bahwa para pengunjuk rasa ini, termasuk banyak warga negara Italia, diperlakukan dengan cara yang melanggar martabat manusia mereka,” tegas Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni, melalui pernyataan resminya di platform X.

Senada dengan Meloni, Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot mengecam tindakan tersebut sebagai aksi yang “tidak dapat diterima” dan menuntut pembebasan warga Prancis secepatnya.

Menteri Luar Negeri Kanada, Anita Anand, juga menyebut insiden ini “sangat mengkhawatirkan”. Kanada menegaskan akan memanggil Dubes Israel untuk meminta pertanggungjawaban.

“Ini adalah masalah yang kami tangani dengan sangat, sangat serius. Ini adalah masalah perlakuan manusiawi terhadap warga sipil, dan saya dapat meyakinkan Anda bahwa kami bertindak dengan sangat mendesak,” kata Anand kepada wartawan.

Kecaman serupa datang dari Menteri Luar Negeri Belanda Tom Berendsen, yang menyatakan bahwa perlakuan Ben-Gvir jelas-jelas melanggar martabat kemanusiaan.

Sikap keras juga ditunjukkan oleh Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung. Ia mengonfirmasi ada warga Korsel yang turut diculik oleh pasukan angkatan laut Israel dan menyebut tindakan Tel Aviv sudah keterlaluan.

“Apa dasar hukumnya? Apakah itu perairan teritorial Israel?” cecar Lee Jae Myung. “Apakah itu tanah Israel? Jika terjadi konflik, dapatkah mereka menyita dan menahan kapal negara ketiga?” ketusnya.

Selain negara-negara di atas, Kementerian Luar Negeri Portugal, Spanyol, dan Irlandia juga mengutuk keras insiden memuakkan tersebut. Menlu Irlandia Helen McEntee mengaku “terkejut” dengan rekaman video itu dan mendesak pembebasan seluruh aktivis tanpa syarat.

Untuk diketahui, total ada 430 aktivis Global Sumud Flotilla yang ditangkap secara paksa oleh tentara Israel di tengah laut saat melakukan perjalanan misi kemanusiaan membawa bantuan ke Gaza. Ratusan relawan lintas negara tersebut kini diseret ke Israel untuk menjalani penahanan. (RED)

65 / 100 Skor SEO