Di sisi lain, sekutu regional AS seperti Kuwait juga dilaporkan langsung mengaktifkan status siaga penuh, di mana unit pertahanan udara mereka mengklaim sempat menghalau sejumlah “serangan musuh” yang mencoba melintasi perimeter udara mereka.

Merespons gempuran tersebut, militer Amerika Serikat bergerak cepat. Komando Pusat AS (CENTCOM), yang mengawasi seluruh pergerakan pasukan Amerika di Timur Tengah, mengumumkan bahwa mereka telah resmi “menyelesaikan” rentetan serangan udara balasan terhadap titik-titik pertahanan Iran.

“Pasukan CENTCOM telah merampungkan serangan pertahanan diri terhadap Iran. Kami menyerang sistem pertahanan udara, stasiun kendali darat, serta lokasi radar pengawasan di dekat Selat Hormuz,” tulis pernyataan resmi CENTCOM melalui platform X (dahulu Twitter).

Operasi balasan tersebut diluncurkan menggunakan amunisi berpandu presisi tinggi yang dilepaskan dari jet-jet tempur Angkatan Udara dan Angkatan Laut AS. Gempuran udara Pentagon ini diklaim sebagai balasan atas serangan Iran sebelumnya terhadap helikopter tempur Apache milik angkatan darat AS. Setidaknya, terdengar enam ledakan dahsyat mengguncang wilayah Iran selatan, termasuk di area strategis Pulau Qeshm yang berdekatan langsung dengan Selat Hormuz.

Konflik terbuka langsung antara Washington dan Teheran ini merupakan imbas dari efek domino eskalasi berdarah antara Israel dan Iran yang pecah di awal minggu.

Hujan rudal Iran ke Tel Aviv sebagai bentuk aksi solidaritas atas agresi militer Israel ke Lebanon dan Gaza, langsung direspons keras oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Kondisi ini kian rumit setelah faksi pro-Teheran di Yaman (kelompok Houthi) ikut menyatakan terlibat, yang kini justru berujung pada konfrontasi bersenjata frontal antara militer Amerika Serikat dan Iran. (PDN)

14 / 100 Skor SEO