KENDARI, PERDETIKNEWS.COM — Nama Wahdah Sultra Berkarya muncul sebagai pemenang pembangunan gudang, gedung keperawatan, hingga renovasi rektorat Universitas Halu Oleo (UHO).
Dalam kumpulan pengumuman pengadaan sepanjang 2023–2026 yang dihimpun Perdetiknews.com, perusahaan tersebut mencatat enam kemenangan dengan akumulasi penawaran terkoreksi Rp32,63 miliar.
Pada pekerjaan penataan kawasan, nama CV Raning Dwi Laksana juga muncul berulang. Perusahaan itu memenangi enam paket, mulai dari landscape hingga revitalisasi gerbang utama kampus, dengan total penawaran terkoreksi Rp23,60 miliar.
Kemunculan perusahaan yang sama pada sejumlah paket menjadi perhatian pengamat konstruksi Ir. Ilham P. Amir. Ia mempertanyakan keterbukaan evaluasi peserta dan meminta aparat menelusuri proses pengadaan tersebut.
Kasubdit III Tipidkor Ditreskrimsus Polda Sulawesi Tenggara, AKBP Niko Darutama, S.E., S.I.K., M.H., menyatakan kepolisian akan menindaklanjutinya.
“Akan kita tindak lanjuti. Polda akan melakukan penyelidikan dari proses awal tahap perencanaan, proses lelang sampai dengan hasil pekerjaannya,” kata Niko dalam tanggapan yang diterima Perdetiknews.com.
Sementara itu, upaya meminta penjelasan kepada Rektor UHO yang baru dilantik, Prof. Takdir Saili, belum memperoleh jawaban. Awak media telah berulang kali menghubunginya melalui pesan WhatsApp dan panggilan telepon. Hingga berita ini ditayangkan, belum ada tanggapan.
Penelusuran Perdetiknews.com menghimpun pengumuman 38 paket pekerjaan yang mencantumkan 19 perusahaan sebagai pemenang. Akumulasi penawaran terkoreksi para pemenang mencapai Rp141.447.413.917.
Angka tersebut menunjukkan nilai penawaran setelah koreksi sebagaimana tercantum dalam pengumuman. Nilainya bukan nilai kontrak ataupun realisasi pembayaran. Kumpulan ini juga terbatas pada paket yang dihimpun, bukan keseluruhan pengadaan UHO.
Di urutan pertama, enam kemenangan Wahdah Sultra Berkarya tersebar dalam empat tahun anggaran.
Pada 2023, perusahaan tersebut memenangi Pembangunan Gudang BMN senilai Rp3.766.949.000. Tahun berikutnya, perusahaan yang sama menjadi pemenang Pembangunan Gedung Keperawatan dengan penawaran terkoreksi Rp8.723.318.000.
Dua kemenangan tercatat pada 2025, yakni Renovasi Gedung Rektorat sebesar Rp6.594.707.327 dan Renovasi Gedung Kuliah FKIP UHO senilai Rp1.967.752.000.
Pada 2026, Wahdah Sultra Berkarya kembali tercantum sebagai pemenang Pembangunan Gedung Pusat Layanan Terpadu Mahasiswa Fakultas Peternakan senilai Rp9.064.632.774 serta Renovasi Gedung Kuliah FP sebesar Rp2.515.273.346.
Adapun enam kemenangan CV Raning Dwi Laksana meliputi Landscape PPV tahun 2023, Landscape PPG dan Landscape Gudang BMN tahun 2024, serta Pembangunan Landscape Gedung Keperawatan FK dan Landscape Lanjutan FEB tahun 2025.
Pada 2026, perusahaan itu memenangi Revitalisasi Gerbang Utama Kampus UHO dengan penawaran terkoreksi Rp7.466.833.068. Paket tersebut menjadi yang terbesar di antara enam kemenangannya dalam data yang dihimpun.
Perhatian Ilham tidak berhenti pada nama perusahaan yang berulang. Ia juga mempertanyakan informasi evaluasi dalam pengumuman Renovasi Gedung Rektorat UHO tahun anggaran 2025.
Paket tersebut memiliki harga perkiraan sendiri (HPS) Rp6.815.191.000. Wahdah Sultra Berkarya ditetapkan sebagai pemenang dengan penawaran awal Rp6.603.587.327, kemudian terkoreksi menjadi Rp6.594.707.327.
Pada tabel yang sama, terdapat empat perusahaan dengan penawaran awal lebih rendah:
CV ISMAZA Rp6.474.579.602
CV Link Amerta Rp6.451.798.000
CV Abyan King Perkasa Rp6.380.879.440
CV NR. Rezky Construction Rp6.138.944.806
Keempat perusahaan itu tidak tercantum sebagai pemenang. Kolom penawaran terkoreksi masing-masing tertulis Rp0, tanpa uraian alasan gugur dalam tabel yang dihimpun.
Harga lebih rendah tidak otomatis membuat peserta memenangi pengadaan. Pertanyaan yang diajukan Ilham adalah bagaimana penawaran diperiksa dan persyaratan apa yang tidak dipenuhi masing-masing peserta.
“Harusnya yang tidak lolos dibuatkan berita acara evaluasi administrasi dan teknik, gugur karena apa,” ujarnya.
Ilham meminta penjelasan diberikan melalui dokumen evaluasi. Angka Rp0 pada tabel, menurutnya, perlu diterangkan agar peserta dan publik memahami dasar keputusan.
Ilham, yang juga Ketua Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Kabupaten Kolaka Timur, menggunakan istilah “arisan” untuk menggambarkan pola kemenangan yang dipertanyakannya.
“Dan memang terkesan menurut saya masih tanda tanya, bahwa di ULP itu sistem arisan, karena itu-itu aja perusahaan yang berputar,” kata Ilham.
Ia mengemukakan dugaan tersebut berdasarkan pengamatannya terhadap perusahaan yang kembali bertemu pada sejumlah pekerjaan. Ia meminta pola itu diperiksa bersama dokumen pemilihan, hasil evaluasi, dan dasar penetapan pemenang.
Ilham juga menyoroti kemungkinan hubungan pengendalian usaha antara konsultan perencana, konsultan pengawas, dan kontraktor. Menurutnya, pemeriksaan perlu menjangkau pihak yang mengendalikan perusahaan, bukan hanya nama badan usahanya.
“Bendera bisa berbeda, tapi dengan pemilik yang sama itu bisa saja terjadi,” ujarnya.
Ia berharap Tipikor dan KPK menelusuri persoalan tersebut. Kemunculan perusahaan yang berulang maupun perbedaan harga penawaran menjadi hal yang dimintanya diperiksa, bukan kesimpulan bahwa pelanggaran telah terbukti.
Berikut urutan perusahaan berdasarkan akumulasi penawaran terkoreksi pemenang dalam pengumuman yang dihimpun:
Peringkat Perusahaan Jumlah paket Total penawaran terkoreksi
1 Wahdah Sultra Berkarya 6 Rp32.632.632.447
2 CV Raning Dwi Laksana 6 Rp23.598.179.068
3 CV NR. Rezky Construction 3 Rp18.582.011.585
4 CV Subur Abadi Jaya 4 Rp10.030.530.990
5 CV Aisyah Near Rezky 1 Rp7.824.087.000
6 CV Lumintu 2 Rp7.309.335.000
7 CV Cipta Jaya Mas 1 Rp6.200.853.790
8 CV Adiva Mandiri Teknik 2 Rp5.686.173.000
9 PT Winih Bintang Medika 2 Rp5.606.998.000
10 CV Link Amerta 2 Rp5.596.597.337
11 CV Bimo Mandala Sakti 1 Rp5.342.966.000
12 CV Risky Karya Mandiri 1 Rp2.407.541.000
13 CV Bening Nuray Konstruksi 1 Rp2.219.796.500
14 CV Syafiqah Syabil Abadi 1 Rp1.991.755.000
15 CV Abyan King Perkasa 1 Rp1.849.353.500
16 CV Arta Amar Mandiri 1 Rp1.587.300.000
17 CV Vintara Mitra Utama 1 Rp1.383.514.200
18 PT Maja Bintang Indonesia 1 Rp940.558.500
19 PT Berlian Maju Semesta 1 Rp657.231.000
Total 19 perusahaan 38 Rp141.447.413.917
Penghitungan hanya memasukkan perusahaan yang secara tegas tercantum sebagai pemenang. Status pendamping pemenang tidak dihitung sebagai kemenangan.
Khusus Pembangunan Gedung Pusat Layanan Terpadu Mahasiswa Fakultas Peternakan, terdapat dua pengumuman dengan nama paket dan HPS sama, tetapi nomor surat serta susunan penawaran berbeda.
Keduanya dihitung satu paket menggunakan pengumuman terakhir yang mencantumkan pemenang.
Satu paket pemeliharaan alat laboratorium masih memerlukan pencocokan identitas administrasi dan tahun anggaran.
Pernyataan AKBP Niko menempatkan penelusuran kepolisian pada seluruh rangkaian pekerjaan perencanaan, proses pemilihan penyedia, hingga hasil pembangunan.
Dari pihak kampus, Perdetiknews.com meminta penjelasan mengenai mekanisme pengadaan, alasan gugurnya peserta, keterbukaan berita acara evaluasi, serta pengendalian potensi konflik kepentingan.
Pertanyaan kepada Prof. Takdir Saili juga mencakup langkah rektor baru dalam mengevaluasi pengadaan sebelumnya dan tanggapan atas pernyataan Polda Sultra.
Pesan WhatsApp yang dikirim menampilkan tanda dua centang. Upaya konfirmasi melalui panggilan telepon juga belum memperoleh tanggapan.
Hingga berita ini ditayangkan, penjelasan UHO mengenai dasar evaluasi pada paket-paket yang dipertanyakan masih ditunggu, begitu pula perkembangan tindak lanjut yang disampaikan kepolisian.
Editor: Ixan



Tinggalkan Balasan