KENDARI, PERDETIKNEWS.COM — Pembangunan Kawasan Olahraga Terpadu Lakidende membawa harapan bagi pembinaan atlet Sulawesi Tenggara. Fasilitas itu diharapkan menjadi tempat tumbuhnya atlet berprestasi sekaligus membuka kesempatan bagi daerah untuk menjadi tuan rumah kejuaraan tingkat nasional.
Harapan tersebut disampaikan Ketua Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Kabupaten Kolaka Timur yang juga Ketua Lembaga Adat Tolaki (LAT) Kabupaten Kolaka Timur, Ir. Ilham P. Amir.
Ia mengapresiasi pembangunan Lakidende di bawah kepemimpinan Gubernur Sulawesi Tenggara Andi Sumangerukka (ASR).
“Memang sudah saatnya dibangun di Sultra untuk memenuhi kegiatan olahraga bagi masyarakat. Kita berharap kawasan ini menjadi tempat lahirnya atlet-atlet berbakat dan berprestasi yang bisa mengharumkan nama daerah di tingkat nasional,” ujar Ilham.
Bagi Ilham, dukungan terhadap pembangunan perlu diikuti kesungguhan dalam mengawal pekerjaan.
Mulai dari pemilihan penyedia hingga pelaksanaan di lapangan, setiap pihak diminta menjalankan tanggung jawabnya secara profesional.
Ilham, yang juga pernah menjabat Ketua Persatuan Konsultan Indonesia (PERKINDO) Sultra periode pertama, menyoroti dinamika tender Jalan Motaha–Alangga dan pembangunan Lakidende.
Ia berharap persoalan dalam proses pengadaan segera diselesaikan agar pelaksanaan program pembangunan ASR tidak terhambat.
Pada pembangunan Lakidende, perhatian Ilham tertuju pada keberatan perusahaan yang sebelumnya diumumkan sebagai pemenang tender, tetapi kemudian tidak menjadi pihak yang menandatangani kontrak.
Menurutnya, perbedaan tersebut perlu dijelaskan melalui tahapan dan dokumen pengadaan. Ia menilai proses sebelum penandatanganan kontrak harus dijalankan dengan koordinasi yang baik antara pihak-pihak terkait.
“Bagi saya, persoalan pertama itu hal yang biasa selama prosedurnya benar. Pokja bisa saja memenangkan suatu perusahaan, namun pihak dinas sebagai pengelola kegiatan dan penanggung jawab pelaksanaan pekerjaan tetap akan mengevaluasi kembali apa yang dihasilkan Pokja,” katanya
Ilham juga menaruh perhatian pada target penyelesaian Lakidende pada akhir Desember 2026. Ia memperkirakan waktu pelaksanaan yang tersedia sekitar 60 hari kalender.
Dalam waktu tersebut, kesiapan material, peralatan, tenaga kerja, dan pengaturan tahapan pekerjaan harus ditangani sejak awal.
Kontraktor dan konsultan pengawas diminta menjaga koordinasi dengan pejabat penanggung jawab kegiatan.
“Secara teknis memang dimungkinkan bisa selesai sampai akhir Desember 2026. Namun, kalau manajemennya tidak bagus, jangankan 60 hari, sampai satu tahun pun tidak akan selesai,” tegasnya.
Kehadiran Gubernur ASR dalam kegiatan pemeriksaan awal pekerjaan atau MC-0 turut disinggung Ilham. Ia berharap pembangunan yang telah dimulai dapat diselesaikan dengan mutu sesuai spesifikasi teknis.
Perhatian serupa disampaikannya terhadap tender Jalan Motaha–Alangga. Ilham mempertanyakan kronologi peserta yang disebut sempat dinyatakan gugur, kemudian kembali dievaluasi hingga ditetapkan sebagai pemenang.
Ia meminta proses tersebut dijelaskan berdasarkan dokumen pemilihan, berita acara evaluasi, dan riwayat tahapan dalam sistem pengadaan.
Kesesuaian masa berlaku jaminan penawaran dengan persyaratan tender juga menjadi bagian yang disorotinya.
Ilham menegaskan, pandangannya mengenai pengadaan pekerjaan konstruksi tidak didasari kepentingan politik.
Ia ingin persoalan yang muncul segera memperoleh penyelesaian sehingga pembangunan dapat berjalan sesuai rencana.
Pokja Pemilihan, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), serta organisasi perangkat daerah terkait diminta memperkuat koordinasi dan menyampaikan kendala secara objektif kepada pimpinan.
Dukungan terhadap program ASR, menurut Ilham, perlu diwujudkan melalui pekerjaan yang tertib, pengawasan yang disiplin, serta hasil pembangunan yang dapat digunakan masyarakat.
“Kontraktor, konsultan, dan penanggung jawab pekerjaan yang mewakili pemerintah harus benar-benar bekerja ekstra dan profesional,” ujar Ilham.
Editor: Ixan




Tinggalkan Balasan